Berikut ini lanjutan dari artikel Misteri Karate 1, bagi yang akan membaca artikel ini dapat membaca artikel sebelumnya.
Dengan konsep dasar seperti yang dijelaskan pada artikel sebelumnya, kita masuk kedalam penjabaran bunkai, yang mana bunkai adalah tahap pertama untuk membuka teknik yang masih menjadi misteri dalam pengaplikasiannya sebelum kita melangkah ke Bunseki (menganalisa) dan Oyo (pengaplikasian).
Dalam menjabarkan teknik dari kata, pertama kita harus pintar dalam memilih kata sebab ada beberapa kata yang bertujuan untuk pembelajaran olah raga atau beberapa kata yang bertujuan untuk melatih fikiran dengan melatih pernapasan disertai gerakan fisik.
Kemudian setelah kita memilih jurus atau kata ada hal yang harus diketahui bahwa suatu kata bukanlah satu gerakan panjang yang kita bayangkan sedang dikepung oleh banyak lawan. Untuk mempelajari bunkai, kata dibagi per-sequence dalam penjabarannya dan setiap bagiannya mengandung berbagai macam teknik dan kaidahnya sehingga keseluruhan kata menjadi semacam buku paket. Biasanya bagian yang dijabarkan dalam bunkai terdiri dari 1 sampai 5 gerakan.
Kemudian kita masuk kedalam Bunseki atau menganalisa suatu teknik yang sudah kita ketahui bunkainya. Hal dasar yang kita analisa pertama adalah tumpuan atau kuda kuda, karena hal ini memberikan pengaruh besar kepada bagian atas tubuh bagaimana bagian atas bekerja.
Setiap kuda kuda memiliki tujuan sendiri dalam penggunaannya. Apakah kuda kuda yang menaruh berat kedepan? (zenkutsu dachi), belakang? (kokutsu dachi), tengah? (shiko dachi), dan lain sebagainya. Memperhatikan menaruh letak berat badan dalam penggunaan kuda kuda dan perubahan kuda kuda dari satu ke lainnya sangat berpengaruh terhadap keefektifan suatu teknik.
Kemudian tahapan berikutnya kita analisa mengenai arah gerakan. apakah kita bergerak kedepan, samping, mengelak meloncat dan lainnya. Namun intinya sama dengan kuda kuda yaitu memperhatikan mengapa dan bagaimana menaruh berat tubuh dalam berbagai macam arah gerakan.
Keharmonisan antara bagian atas tubuh dan bawah tubuh. Pembatas antara dua bagian tersebut terletak pada pinggul yang menjadi titik keseimbangan, tenaga, dan jembatan antara bagian atas dan bawah. Penggunaan teknik atas berupa teknik tangan dan sundulan harus berinteraksi secara harmonis dengan bagian bawah tubuh seperti kuda kuda, arah gerakan, dan distribusi berat badan. Begitu juga dengan teknik bawah seperti teknik kaki, sapuan, tendangan harus sinkron dengan bagian atas tubuh seperti tangan dan berat tubuh. Intinya bagian atas tubuh dan bawah harus bekerja sebagai satu unit kesatuan.
Tangan, dalam bunkai bentuk tangan harus diperhatikan apakah tangan yang terbuka atau terkepal. Tangan terbuka dapat mempresentasikan menangkap atau melepaskan pegangan sedangkan tangan terkepal dapat mempresentasikan menggenggam atau mematahkan. bentuk serangan dalam kata baik itu menggunakan tangan terbuka maupun terkepal memiliki aplikasi yang berbeda.
Kemudian terdapat hal yang banyak dilupakan bagi para karateka mengenai bentuk tangan yang pasif. Tidak ada hal yang tidak berguna dalam bentuk teknik karate termasuk tangan yang pasif. Tangan terlihat pasif bila tangan sedang melindungi bagian tengah atau setelah membelokkan serangan (ketika tangan aktif sedang melakukan suatu gerakan), contohnya Hikite. kedua buah tangan pasti memiliki suatu fungsi, sama seperti kedua buah kaki.
Kemudian tempo, gerakan kata yang lambat maupun cepat dan perubahan ritme memiliki tujuan tersendiri dalam pengaplikasiannya. Gerakan yang lambat dapat mempresentasikan mendekat ke arah lawan, mematahkan persendian atau teknik kuncian, sedangkan gerakan yang cepat dapat mempresentasikan serangan langsung, meloloskan diri dari kuncian, melempar lawan dan menangkis.
Think out of the box, setiap gerakan yang kita lihat biasa mungkin memiliki teknik yang terkandung didalamnya seperti; hikite apakah sekedar tangan yang ditaruh dipinggang atau ushiro hijiate atau sebagai menarik tangan lawan agar lawan mendekat kepada kita disertai pukulan telak ke arahnya? gerakan magate apakah sekedar balik badan atau teknik melempar? dan lain sebagainya.
Setelah kita mengetahui penjabaran kata (bunkai), menganalisa (bunseki), sekarang kita masuk kedalam pembahasan bagaimana pengaplikasiannya (oyo).
Dalam Oyo / aplikasi suatu teknik anda harus memiliki pemahaman yang mendalam mengenai suatu teknik dalam pengaplikasiannya dan bagaimana cara pengaplikasiannya. Sebagai bahan pertimbangan dalam memahami pengaplikasian suatu teknik dapat menyimak hal hal berikut ini:
• Siaga dalam mempertahankan diri secara alami bukan dengan gaya seolah olah sedang bertinju atau menggunakan gaya bangau seperti pada film kungfu. Perlu diingat ini adalah moment dimana kita harus selamat dari kontak fisik selalu waspada bahwa serangan bisa datang dari arah samping, belakang, bawah, dan atas. Jangan beranggapan bahwa ini adalah pertarungan satu lawan satu, seimbang dan disebuah arena.
• Aplikasikan suatu teknik atau bunkai kata dalam berbagai macam serangan yang berbeda. Mengapa demikian? karena anda tahu teknik yang anda miliki namun anda tidak mungkin tahu bagaimana serangan akan datang kepada anda.
• Jangan berasumsi atau memprediksi ketika anda menggunakan aplikasi suatu teknik dipertarungan biarkan reflek yang bekerja. Menciptakan reflek tentunya dengan berlatih sungguh sungguh.
• Berlatih dengan rekan yang menyerang secara tak terduga. Inisiatif rekan dapat melatih kesiapan kita dalam menghadapi pertarungan nyata.
Sebagai penutup artikel ini dalam memahami bunkai bahwa kita pasti akan menghadapi saat "stuck" dimana kita tidak memiliki ide atau petunjuk dari suatu teknik. Hal ini dapat diatasi dengan "think out of the box" seperti:
cross training dengan seni beladiri lain, mempelajari sejarah mengapa terdapat beberapa varian kata yang berbeda, belajar kata yang sama dari aliran lain, menggunakan teknik kotor, dll.
"Kata bukanlah suatu bentuk tarian kompetisi yang indah, tapi sebuah seni beladiri untuk pertahanan diri - yang menentukan antara hidup dan mati.
– Kenwa Mabuni (Pendiri Shito-ryu Karate)
Rabu, 13 April 2016
Rabu, 06 April 2016
Misteri Karate 1
Pernahkah anda memecahkan suatu kode menjadi sebuah petunjuk atau menyukai cerita maupun film bergenre mystery yang membutuhkan kemampuan menganalisa suatu teka teki.
Bila sahabat menyukainya apakah jawaban suatu teka teki tersebut sama dengan perkiraan jawaban anda? I can guarantee that most of you have different result with the end of movie or story. Tentunya bila jalan cerita suatu film ataupun novel mudah ditebak, cerita tersebut tidak akan menjual kepada pecinta film mystery.
Pengarang cerita akan memasukkan teka teki tersembunyi dalam ceritanya, hal yang sama terjadi pada jurus atau dalam karate disebut kata. Kata adalah rangkaian dari beberapa gerakan beladiri. gerakan-gerakan didalam Kata itulah para pencipta Kata menaruh teka teki.
Hmmm... Selain berlatih fisik yang menguras tenaga, apakah kita harus kembali berfikir keras untuk memecahkan teka teki suatu kata? seperti pertanyaan:
"Apa maksud dari gerakan ini? Apa tujuan dari gerakan ini? Bagaimana caranya gerakan ini digunakan untuk menghadapi lawan?"
Cukup diketahui bersama bahwa karate is not just martial arts, it's smartial arts. Karate bukanlah menjadikan para praktisinya menjadi tukang pukul atau lebih mengandalkan otot dari pada otak. Dalam mempelajari karate membutuhkan pendekatan akademis dari berbagai macam disiplin ilmu seperti mekanisme gerak, fisika, nutrisi, filosofi, sejarah, sosiologi, de el el.
Kata atau dalam bahasa disebut jurus adalah rangkaian gerakan beladiri yang dirangkai dari beberapa gerakan menjadi satu kesatuan. Dalam karate, penjabaran gerakan jurus atau kata disebut bunkai. Bunkai adalah proses menganalisa Kata / jurus dan menuangkannya menjadi teknik pertarungan.
Banyak diantara para karateka tidak pernah diajarkan bunkai secara komprehensif dan terstruktur dengan baik. Jika memang ada hanya sebagai catatan pinggir suatu teknik. Tapi tidak dapat disalahkan dikarenakan yang mengajarpun tidak diajarkan bunkainya oleh instrukturnya.
Hal ini menyebabkan kata hanya dihapal gerakannya saja dan digunakan sebagai latihan fisik, persiapan kenaikan sabuk, dan pertandingan. Padahal kata adalah bagian terpenting dari karate, if you can't do kata, you just do kick boxing and if you can't do bunkai, you just do punching and kicking dance.
Dalam karate kata berfungsi sebagai sarana penyimpanan teknik beladiri atau silabus yang diturunkan dari guru ke murid.
Back in ye old days, di Okinawa saat karate diajarkan untuk umum disusunlah lima kata Pinan oleh Itosu guna memperkenalkannya kepada murid sekolah dasar. Tentunya anak SD tidak diajarkan teknik mematikan, kelima kata pinan bertujuan untuk melatih fisik namun tidak menghilangkan teknik beladirinya. Dengan kata lain teknik beladirinya disembunyikan dalam gerakan untuk latihan fisik.
Kemudian karate diperkenalkan ke wilayah utama jepang, ada beberapa modifikasi dalam kata seperti mengganti nama asli kata yang berbau bahasa tionghoa menjadi berbahasa jepang, mengembangkan teknik seperti tendangan yang tinggi atau berputar serta penambahan teknik lainnya selain itu juga disertai "pengurangan" teknik seperti teknik kuncian, bantingan, totokan, dan teknik lainnya. (teknik kuncian atau bantingan jarang dipelajari saat itu karena masyarakat jepang sudah mengenal jujutsu, judo, maupun aikido, sehingga karate sebagai pelengkap untuk teknik striking-nya. atau bahkan digabungkan seperti pada aliran Wado-ryu). Dan perubahan teknik agar kata yang dipertunjukkan terlihat indah
Jadi seiring berjalannya waktu dan demi mempopulerkan karate aspek makna dari kata menjadi dikesampingkan. Namun tidak perlu khawatir karena pada dasarnya kata adalah sebuah kapsul waktu yang mana semua teknik, kaidah, ide, cara bertarung dan lainnya dirangkum oleh para ahli beladiri yang mana teknik teknik tersebut diambil dari berbagai macam seni beladiri yang sudah teruji, sesuai dengan kondisi pertarungan dan sesuai dengan anatomi tubuh manusia. Tinggal para praktisi kata untuk memperdalam pengetahuannya tentang bunkai.
Dalam pengaplikasian suatu teknik dalam kata harus masuk akal dan didasarkan pada prinsip-prinsip membela diri: teknik yang efektif, sederhana untuk mengeksekusi, efisien, mudah untuk berlatih dan cepat untuk mengingat.
Perlu diingat tujuan utama dari karate adalah membeladiri tanpa terluka bukan membeladiri dengan melukai lawan. Bagaimanapun juga situasi dan kondisi dilapangan pasti diluar perkiraan, kita dituntut untuk memaksimalkan peluang selamat yaitu dengan menyerang struktur tubuh lawan berikut ini:
• Pernapasan
• Peredaran darah
• Kesadaran
• Dislokasi
• Organ dalam
• Otot
• Sistem reproduksi
Menyerang sistem pernapasan dimaksudkan untuk menghentikan jalur udara lawan salah satunya dengan cara mencekik. Menyerang peredaran darah untuk menghentikan sirkulasi darah. Darah membawa oksigen dan zat yang dibutuhkan tubuh ke organ dan otak, bila sirkulasi tersebut dihentikan maka organ dan otak tidak akan berfungsi.
Menyerang kesadaran yaitu menyerang bagian tubuh yang mana bila terjadi benturan yang keras maka seketika lawan akan hilang kesadarannya seperti pada pelipis dan dagu. Dislokasi adalah mengubah lokasi bagian tubuh yang terletak pada sendi atau pertemuan antar tulang (membutuhkan lebih dari sekedar mematahkan jari untuk menghentikan serangan lawan).
Organ dalam adalah organ yang dilindungi oleh sejumlah tulang atau otot, sangat berbahaya bila terjadi benturan yang tidak bisa ditahan oleh tulang atau otot yang melindunginya.
Menyerang otot sebagai komponen gerak dapat memperlambat gerakan dari lawan. Dan yang paling mudah untuk dipelajari dan efektif adalah menyerang alat kelamin karena bersifat rapuh dan banyak syaraf berada diorgan tersebut.
Dari struktur tubuh tersebut kita ketahui bahwa dalam karatepun mempelajari anatomi tubuh manusia terutama terkait dalam pembahasan kita kali ini yaitu bunkai. Dengan mempelajari anatomi tersebut kita dapat:
• Mengoptimalkan dalam menyerang atau melindungi titik lemah (alat kelamin, kepala belakang, uluhati...)
• Mengoptimalkan tubuh manusia yang dapat dijadikan senjata (tinju, tendang, sikut, lutut....)
• Mengoptimalkan sudut, arah, frekuensi, waktu, intensitas, de el el (taktik dan strategi)
Dengan memahami tubuh manusia akan memudahkan karateka menilai apa, dimana, bagaimana dan mengapa suatu teknik (bunkai) akan berhasil atau gagal dieksekusi.
Berlanjut ke bagian kedua ====>
Bila sahabat menyukainya apakah jawaban suatu teka teki tersebut sama dengan perkiraan jawaban anda? I can guarantee that most of you have different result with the end of movie or story. Tentunya bila jalan cerita suatu film ataupun novel mudah ditebak, cerita tersebut tidak akan menjual kepada pecinta film mystery.
Pengarang cerita akan memasukkan teka teki tersembunyi dalam ceritanya, hal yang sama terjadi pada jurus atau dalam karate disebut kata. Kata adalah rangkaian dari beberapa gerakan beladiri. gerakan-gerakan didalam Kata itulah para pencipta Kata menaruh teka teki.
Hmmm... Selain berlatih fisik yang menguras tenaga, apakah kita harus kembali berfikir keras untuk memecahkan teka teki suatu kata? seperti pertanyaan:
"Apa maksud dari gerakan ini? Apa tujuan dari gerakan ini? Bagaimana caranya gerakan ini digunakan untuk menghadapi lawan?"
Cukup diketahui bersama bahwa karate is not just martial arts, it's smartial arts. Karate bukanlah menjadikan para praktisinya menjadi tukang pukul atau lebih mengandalkan otot dari pada otak. Dalam mempelajari karate membutuhkan pendekatan akademis dari berbagai macam disiplin ilmu seperti mekanisme gerak, fisika, nutrisi, filosofi, sejarah, sosiologi, de el el.
Kata atau dalam bahasa disebut jurus adalah rangkaian gerakan beladiri yang dirangkai dari beberapa gerakan menjadi satu kesatuan. Dalam karate, penjabaran gerakan jurus atau kata disebut bunkai. Bunkai adalah proses menganalisa Kata / jurus dan menuangkannya menjadi teknik pertarungan.
Banyak diantara para karateka tidak pernah diajarkan bunkai secara komprehensif dan terstruktur dengan baik. Jika memang ada hanya sebagai catatan pinggir suatu teknik. Tapi tidak dapat disalahkan dikarenakan yang mengajarpun tidak diajarkan bunkainya oleh instrukturnya.
Hal ini menyebabkan kata hanya dihapal gerakannya saja dan digunakan sebagai latihan fisik, persiapan kenaikan sabuk, dan pertandingan. Padahal kata adalah bagian terpenting dari karate, if you can't do kata, you just do kick boxing and if you can't do bunkai, you just do punching and kicking dance.
Dalam karate kata berfungsi sebagai sarana penyimpanan teknik beladiri atau silabus yang diturunkan dari guru ke murid.
Back in ye old days, di Okinawa saat karate diajarkan untuk umum disusunlah lima kata Pinan oleh Itosu guna memperkenalkannya kepada murid sekolah dasar. Tentunya anak SD tidak diajarkan teknik mematikan, kelima kata pinan bertujuan untuk melatih fisik namun tidak menghilangkan teknik beladirinya. Dengan kata lain teknik beladirinya disembunyikan dalam gerakan untuk latihan fisik.
Kemudian karate diperkenalkan ke wilayah utama jepang, ada beberapa modifikasi dalam kata seperti mengganti nama asli kata yang berbau bahasa tionghoa menjadi berbahasa jepang, mengembangkan teknik seperti tendangan yang tinggi atau berputar serta penambahan teknik lainnya selain itu juga disertai "pengurangan" teknik seperti teknik kuncian, bantingan, totokan, dan teknik lainnya. (teknik kuncian atau bantingan jarang dipelajari saat itu karena masyarakat jepang sudah mengenal jujutsu, judo, maupun aikido, sehingga karate sebagai pelengkap untuk teknik striking-nya. atau bahkan digabungkan seperti pada aliran Wado-ryu). Dan perubahan teknik agar kata yang dipertunjukkan terlihat indah
Jadi seiring berjalannya waktu dan demi mempopulerkan karate aspek makna dari kata menjadi dikesampingkan. Namun tidak perlu khawatir karena pada dasarnya kata adalah sebuah kapsul waktu yang mana semua teknik, kaidah, ide, cara bertarung dan lainnya dirangkum oleh para ahli beladiri yang mana teknik teknik tersebut diambil dari berbagai macam seni beladiri yang sudah teruji, sesuai dengan kondisi pertarungan dan sesuai dengan anatomi tubuh manusia. Tinggal para praktisi kata untuk memperdalam pengetahuannya tentang bunkai.
Dalam pengaplikasian suatu teknik dalam kata harus masuk akal dan didasarkan pada prinsip-prinsip membela diri: teknik yang efektif, sederhana untuk mengeksekusi, efisien, mudah untuk berlatih dan cepat untuk mengingat.
Perlu diingat tujuan utama dari karate adalah membeladiri tanpa terluka bukan membeladiri dengan melukai lawan. Bagaimanapun juga situasi dan kondisi dilapangan pasti diluar perkiraan, kita dituntut untuk memaksimalkan peluang selamat yaitu dengan menyerang struktur tubuh lawan berikut ini:
• Pernapasan
• Peredaran darah
• Kesadaran
• Dislokasi
• Organ dalam
• Otot
• Sistem reproduksi
Menyerang sistem pernapasan dimaksudkan untuk menghentikan jalur udara lawan salah satunya dengan cara mencekik. Menyerang peredaran darah untuk menghentikan sirkulasi darah. Darah membawa oksigen dan zat yang dibutuhkan tubuh ke organ dan otak, bila sirkulasi tersebut dihentikan maka organ dan otak tidak akan berfungsi.
Menyerang kesadaran yaitu menyerang bagian tubuh yang mana bila terjadi benturan yang keras maka seketika lawan akan hilang kesadarannya seperti pada pelipis dan dagu. Dislokasi adalah mengubah lokasi bagian tubuh yang terletak pada sendi atau pertemuan antar tulang (membutuhkan lebih dari sekedar mematahkan jari untuk menghentikan serangan lawan).
Organ dalam adalah organ yang dilindungi oleh sejumlah tulang atau otot, sangat berbahaya bila terjadi benturan yang tidak bisa ditahan oleh tulang atau otot yang melindunginya.
Menyerang otot sebagai komponen gerak dapat memperlambat gerakan dari lawan. Dan yang paling mudah untuk dipelajari dan efektif adalah menyerang alat kelamin karena bersifat rapuh dan banyak syaraf berada diorgan tersebut.
Dari struktur tubuh tersebut kita ketahui bahwa dalam karatepun mempelajari anatomi tubuh manusia terutama terkait dalam pembahasan kita kali ini yaitu bunkai. Dengan mempelajari anatomi tersebut kita dapat:
• Mengoptimalkan dalam menyerang atau melindungi titik lemah (alat kelamin, kepala belakang, uluhati...)
• Mengoptimalkan tubuh manusia yang dapat dijadikan senjata (tinju, tendang, sikut, lutut....)
• Mengoptimalkan sudut, arah, frekuensi, waktu, intensitas, de el el (taktik dan strategi)
Dengan memahami tubuh manusia akan memudahkan karateka menilai apa, dimana, bagaimana dan mengapa suatu teknik (bunkai) akan berhasil atau gagal dieksekusi.
Senin, 28 Maret 2016
Ofensif dan Defensif
Pandangan para seniman beladiri terhadap cara menghadapi lawan sangatlah beragam. Selama saya mempelajari seni ini setidaknya ada dua tipe para ahli beladiri menyikapi bagaimana cara menghadapi lawan. Dua tipe ini terkait dengan kepribadian para penganutnya.
1. Tipe Defensif
Defensif bermakna bahwa tidak ada serangan terlebih dahulu dalam karate, maka dari itu setiap kata di karate diawali dengan tangkisan. Hal ini diungkapkan dalam 20 perinsip karate oleh Gichin Funakoshi
2. Tipe Ofensif
Ofensif bermakna bahwa kita harus berinisiatif untuk memulai serangan untuk menetralkan lawan gunanya untuk mencegah celaka bagi kita maupun lawan. gaya ini digunakan oleh Choki Motobu seorang ahli karate terutama dalam kumite gaya bebas.
Baik Choki Motobu maupun Gichin Funakoshi keduanya adalah master karate yang mumpuni dalam bidangnya masing masing, keduanya berasal dari daerah yang sama yaitu Okinawa (tempat asal karate), dan mereka memiliki hubungan yang akrab walaupun pernah terdapat konflik yang cukup serius.
Terlepas dari konflik mereka, mereka telah memberikan contoh bagi generasi mendatang mengenai tipe menghadapi lawan baik itu tipe bertahan ataupun menyerang.
Dalam seni beladiri lain seperti pencak silat tipe defensif dikenal dengan istilah "anda jual kita beli", dan tipe ofensif dikenal dengan istilah "orang lain baru mau kita sudah sampai".
Untuk seni beladiri lain tentunya memiliki istilah sendiri sesuai dengan kebudayaannya masing masing tapi secara garis besar intinya sama.
Kedua tipe ini tidak hanya mengajarkan bagaimana menghadapi lawan namun terdapat nilai filosofi yang terkandung didalamnya. Dalam tipe defensif mengajarkan para praktisi beladiri untuk tidak menggunakan tekniknya untuk menyakiti orang lain, masih banyak cara yang harus dikedepankan untuk menghindari bentrok fisik seperti komunikasi yang baik dan santun.
Dalam tipe ofensif kita diajarkan bahwa kesempatan tidaklah datang untuk kedua kali, hal ini membutuhkan inisiatif yang tinggi dan kepekaan terhadap situasi dan kondisi. Hal tersebut sangat penting mengingat yang anda hadapi adalah moment antara hidup dan mati.
Nah tipe seperti apakah anda?
Secara pribadi penulis mengedepankan sikap moderat yaitu melihat dari situasi dan kondisi yang terjadi, namun hal itu harus memiliki respon yang cepat dan tepat dalam menghadapi lawan dan hanya dapat dilatih secara disiplin dan sungguh sungguh.
Oh ya, ada satu tipe lagi dengan jurusnya yang terkenal yaitu jurus langkah seribu. Benar, lari adalah cara membeladiri yang termudah terutama apabila anda dikeroyok cukup membutuhkan kaki yang kuat dan paru paru yang sehat. Maka dari itu tetap jauhkan rokok bagi diri anda.
1. Tipe Defensif
Defensif bermakna bahwa tidak ada serangan terlebih dahulu dalam karate, maka dari itu setiap kata di karate diawali dengan tangkisan. Hal ini diungkapkan dalam 20 perinsip karate oleh Gichin Funakoshi
2. Tipe Ofensif
Ofensif bermakna bahwa kita harus berinisiatif untuk memulai serangan untuk menetralkan lawan gunanya untuk mencegah celaka bagi kita maupun lawan. gaya ini digunakan oleh Choki Motobu seorang ahli karate terutama dalam kumite gaya bebas.
Baik Choki Motobu maupun Gichin Funakoshi keduanya adalah master karate yang mumpuni dalam bidangnya masing masing, keduanya berasal dari daerah yang sama yaitu Okinawa (tempat asal karate), dan mereka memiliki hubungan yang akrab walaupun pernah terdapat konflik yang cukup serius.
Terlepas dari konflik mereka, mereka telah memberikan contoh bagi generasi mendatang mengenai tipe menghadapi lawan baik itu tipe bertahan ataupun menyerang.
Dalam seni beladiri lain seperti pencak silat tipe defensif dikenal dengan istilah "anda jual kita beli", dan tipe ofensif dikenal dengan istilah "orang lain baru mau kita sudah sampai".
Untuk seni beladiri lain tentunya memiliki istilah sendiri sesuai dengan kebudayaannya masing masing tapi secara garis besar intinya sama.
Kedua tipe ini tidak hanya mengajarkan bagaimana menghadapi lawan namun terdapat nilai filosofi yang terkandung didalamnya. Dalam tipe defensif mengajarkan para praktisi beladiri untuk tidak menggunakan tekniknya untuk menyakiti orang lain, masih banyak cara yang harus dikedepankan untuk menghindari bentrok fisik seperti komunikasi yang baik dan santun.
Dalam tipe ofensif kita diajarkan bahwa kesempatan tidaklah datang untuk kedua kali, hal ini membutuhkan inisiatif yang tinggi dan kepekaan terhadap situasi dan kondisi. Hal tersebut sangat penting mengingat yang anda hadapi adalah moment antara hidup dan mati.
Nah tipe seperti apakah anda?
Secara pribadi penulis mengedepankan sikap moderat yaitu melihat dari situasi dan kondisi yang terjadi, namun hal itu harus memiliki respon yang cepat dan tepat dalam menghadapi lawan dan hanya dapat dilatih secara disiplin dan sungguh sungguh.
Oh ya, ada satu tipe lagi dengan jurusnya yang terkenal yaitu jurus langkah seribu. Benar, lari adalah cara membeladiri yang termudah terutama apabila anda dikeroyok cukup membutuhkan kaki yang kuat dan paru paru yang sehat. Maka dari itu tetap jauhkan rokok bagi diri anda.
Senin, 21 Maret 2016
KIAI
Masih teringat ketika pertama kali mengikuti pertandingan karate, pada saat itu diriku masih turun dalam kelas kumite (tarung) dan baru pertama kalinya berada ditengah arena dimana dikelilingi tribun penonton yang semua mata tertuju pada tengah arena.
Semua teknik sudah diasah pada setiap latihan, berangkat bertandingpun penuh dengan semangat tempur. namun hal itu berubah 180 derajat ketika berada pada tengah arena. Nafas menjadi lebih berat, gerakan menjadi lebih lambat, dan semua strategi yang sudah dipersiapkan poof... i've lost in blank zone at that time.
Pernah mengalami hal seperti itu? kondisi emosional seperti itu berpengaruh terhadap performa atlet dalam bertanding. Tapi jangan khawatir ada disiplin ilmu yang mempelajari masalah itu yaitu ilmu psikologi, khususnya psikologi olahraga, lebih khususnya lagi personologi olahraga. Iaitu adalah bidang ilmu yang mempelajari kepribadian dalam kaitannya dengan olahraga.
Aspek kepribadian yang cukup dominan dalam penampilan atlet ialah motivasi, emosi, dan kognisi. Kita tidak membahas ketiga aspek, hanya aspek emosi yang terkait dengan tema artikel ini.
Menurut D. Gunarsa, Singgih (1989). Psikologi Olahraga. BPK Gunung Mulia:
"Bagi para atlet, emosi ketegangan adalah sesuatu yang ditakuti karena pengaruhnya besar terhadap penampilan dan prestasinya. Ketegangan dan kecemasan dirasakan sangat menekan sebelum bermain atau bertanding. Reaksi-reaksi emosi tersebut dapat berkurang atau menghilang setelah memasuki pertandingan dan dapat timbul emosi lain yang berkaitan dengan penampilan itu sendiri. Kurang mampu menguasai emosi dapat menyebabkan seorang atlet harus membayar mahal karena tidak bisa melanjutkan pertandingan."
Membayar mahal? semua usaha persiapan kita hilang begitu saja! Hmm... kita harus perhitungan untuk hal semacam ini. Datangnya ketegangan adalah karena hilangnya fighting spirit (semangat bertarung). Fighting spirit adalah salah satu komponen dalam bertahan hidup, dan bertahan hidup adalah hukum alam yang pertama dan seharusnya ini muncul secara otomatis dari dalam diri kita.
Semangat tersebut luntur karena kehidupan modern sudah membuat kita terbuai oleh fantasi yang kita lihat, dengar, dan rasakan. mengutip dari Jesse Enkamp "our biggest fight each day is the internal Starbucks struggle of whether to have a regular caffè latte or decaf."
Dalam karate cara tercepat mengajarkan dan memunculkan fighting spirit salah satunya dengan cara berteriak atau KIAI. sebagai contoh ketika kita memulai fighting dan perasaan gugup, tegang, tidak fokus, takut dan perasaan negatif lainnya mulai menyerang maka cobalah untuk berteriak maka ibarat harimau yang dilepaskan dari kurungannya, ia akan menyerang siapa saja didepannya (musuh yang pertama bukanlah berada didepanmu namun didalam dirimu, kamu harus mengalahkan rasa marah, takut, gugup dan rasa negatif lainnya. bila tidak bisa menundukkan dirimu maka kamu akan ditundukkan orang lain).
Seorang karateka harus bisa mengolah emosinya, ia harus bisa bersifat tenang (sebelum bertanding) namun dalam sekejap ia harus bisa bersifat agresif (ketika memulai tanding). Semakin cepat respon from chill time to kill time maka ia dapat menguasai dirinya dengan baik (sanggup menguasai diri adalah salah satu dari sumpah karate).
Kembali lagi kepada kiai, apa itu kiai?
secara sederhana kiai adalah teriakan yang sering kita dengar pada seni beladiri oriental. Dalam bahasa jepang kiai terdiri dari dua kata yaitu KI yang berarti energy dan AI yang berarti memadukan, jadi dalam kiai tidak hanya berteriak namun lebih penting lagi adalah memusatkan tenaga dan menyalurkannya.
Memusatkan dan menyalurkan tenaga? How to do it? Just scream?
Tentunya berbeda dengan berteriak biasa yang menggunakan tenggorokan. pernah melihat bayi yang telanjang dada dan menangis? bayi akan mengembang dan mengempiskan perutnya ketika menangis, begitu juga dengan kiai. Kiai berteriak menggunakan perut anda dan tidak menggunakan tenggorokan. Dalam bahasa ilmiah otot yang digunakan dalam kiai adalah transversus abdominis, otot ini juga berfungsi untuk membantu wanita yang melahirkan.
Setelah mengetahui how to kiai, lalu kiai tersebut ditautkan dengan teknik yang akan dieksekusi maka teknik anda akan lebih cepat dan bertenaga dan tentunya fighting spirit anda akan muncul.
Anda malu untuk berteriak? Ayolah kawan Even we had did it, right after we were born. Like Bruce Lee, He doesn't drink water, he drinks wataaaaa....
Semua teknik sudah diasah pada setiap latihan, berangkat bertandingpun penuh dengan semangat tempur. namun hal itu berubah 180 derajat ketika berada pada tengah arena. Nafas menjadi lebih berat, gerakan menjadi lebih lambat, dan semua strategi yang sudah dipersiapkan poof... i've lost in blank zone at that time.
Pernah mengalami hal seperti itu? kondisi emosional seperti itu berpengaruh terhadap performa atlet dalam bertanding. Tapi jangan khawatir ada disiplin ilmu yang mempelajari masalah itu yaitu ilmu psikologi, khususnya psikologi olahraga, lebih khususnya lagi personologi olahraga. Iaitu adalah bidang ilmu yang mempelajari kepribadian dalam kaitannya dengan olahraga.
Aspek kepribadian yang cukup dominan dalam penampilan atlet ialah motivasi, emosi, dan kognisi. Kita tidak membahas ketiga aspek, hanya aspek emosi yang terkait dengan tema artikel ini.
Menurut D. Gunarsa, Singgih (1989). Psikologi Olahraga. BPK Gunung Mulia:
"Bagi para atlet, emosi ketegangan adalah sesuatu yang ditakuti karena pengaruhnya besar terhadap penampilan dan prestasinya. Ketegangan dan kecemasan dirasakan sangat menekan sebelum bermain atau bertanding. Reaksi-reaksi emosi tersebut dapat berkurang atau menghilang setelah memasuki pertandingan dan dapat timbul emosi lain yang berkaitan dengan penampilan itu sendiri. Kurang mampu menguasai emosi dapat menyebabkan seorang atlet harus membayar mahal karena tidak bisa melanjutkan pertandingan."
Membayar mahal? semua usaha persiapan kita hilang begitu saja! Hmm... kita harus perhitungan untuk hal semacam ini. Datangnya ketegangan adalah karena hilangnya fighting spirit (semangat bertarung). Fighting spirit adalah salah satu komponen dalam bertahan hidup, dan bertahan hidup adalah hukum alam yang pertama dan seharusnya ini muncul secara otomatis dari dalam diri kita.
Semangat tersebut luntur karena kehidupan modern sudah membuat kita terbuai oleh fantasi yang kita lihat, dengar, dan rasakan. mengutip dari Jesse Enkamp "our biggest fight each day is the internal Starbucks struggle of whether to have a regular caffè latte or decaf."
Dalam karate cara tercepat mengajarkan dan memunculkan fighting spirit salah satunya dengan cara berteriak atau KIAI. sebagai contoh ketika kita memulai fighting dan perasaan gugup, tegang, tidak fokus, takut dan perasaan negatif lainnya mulai menyerang maka cobalah untuk berteriak maka ibarat harimau yang dilepaskan dari kurungannya, ia akan menyerang siapa saja didepannya (musuh yang pertama bukanlah berada didepanmu namun didalam dirimu, kamu harus mengalahkan rasa marah, takut, gugup dan rasa negatif lainnya. bila tidak bisa menundukkan dirimu maka kamu akan ditundukkan orang lain).
Seorang karateka harus bisa mengolah emosinya, ia harus bisa bersifat tenang (sebelum bertanding) namun dalam sekejap ia harus bisa bersifat agresif (ketika memulai tanding). Semakin cepat respon from chill time to kill time maka ia dapat menguasai dirinya dengan baik (sanggup menguasai diri adalah salah satu dari sumpah karate).
Kembali lagi kepada kiai, apa itu kiai?
secara sederhana kiai adalah teriakan yang sering kita dengar pada seni beladiri oriental. Dalam bahasa jepang kiai terdiri dari dua kata yaitu KI yang berarti energy dan AI yang berarti memadukan, jadi dalam kiai tidak hanya berteriak namun lebih penting lagi adalah memusatkan tenaga dan menyalurkannya.
Memusatkan dan menyalurkan tenaga? How to do it? Just scream?
Tentunya berbeda dengan berteriak biasa yang menggunakan tenggorokan. pernah melihat bayi yang telanjang dada dan menangis? bayi akan mengembang dan mengempiskan perutnya ketika menangis, begitu juga dengan kiai. Kiai berteriak menggunakan perut anda dan tidak menggunakan tenggorokan. Dalam bahasa ilmiah otot yang digunakan dalam kiai adalah transversus abdominis, otot ini juga berfungsi untuk membantu wanita yang melahirkan.
Setelah mengetahui how to kiai, lalu kiai tersebut ditautkan dengan teknik yang akan dieksekusi maka teknik anda akan lebih cepat dan bertenaga dan tentunya fighting spirit anda akan muncul.
Anda malu untuk berteriak? Ayolah kawan Even we had did it, right after we were born. Like Bruce Lee, He doesn't drink water, he drinks wataaaaa....
Rabu, 16 Maret 2016
Women In The Macho-Man Culture
Apakah anda orang yang yang masih menganggap kaum hawa adalah mahluk yang lemah? Jika iya anda berada pada keterbelakangan peradaban pada masa sebelum evolusi. Sejak manusia berada di bumi menggunakan akal fikirannya dan menciptakan peradaban, manusia menempatkan wanita sebagai inti dari peradaban itu dan kaum pria berada disekelilingnya.
Tidak dapat dibantah bahwa peran wanita sebagai penjaga kelangsungan peradaban harus disadari oleh semua orang, dimulai dari melahirkan yang mana itu merupakan perjuangan hidup dan mati, sampai tak kenal lelah membesarkan dan mendidik anak.
Banyak apresiasi yang dihasilkan kebudayaan untuk kaum wanita seperti taj mahal, sejarah yang mencatat peranan wanita dalam peradaban suatu bangsa seperti cut nyak dien, bahkan TUHAN pun menempatkan wanita pada kedudukan yang spesial seperti terdapat dalam Alquran ada suatu surat yang bernama Annisa (yang artinya wanita) dan surat Maryam (seorang wanita suci ibunda dari Nabi Isa).
Nah, peran wanita yang besar ini tak luput dalam perkembangan seni beladiri didunia. Dapat dilihat dari beberapa jenis seni beladiri didunia yang diciptakan oleh wanita seperti seni beladiri Baihe Quan atau kungfu bangau putih yang diciptakan oleh seorang wanita yang bernama Fang Qinian (kungfu bangau putih merupakan nenek moyang karate), kemudian ada wing chun yang diciptakan oleh seorang wanita (karate memiliki hubungan dari dua aliran tersebut terutama dari goju-ryu), dan pencak cimande yang menurut legenda abah khair sebagai pencipta pencak cimande belajar beladiri kepada istrinya.
Wanita wajib dilindungi bukan karena lemah namun karena mereka berharga.
Tidak dapat dibantah bahwa peran wanita sebagai penjaga kelangsungan peradaban harus disadari oleh semua orang, dimulai dari melahirkan yang mana itu merupakan perjuangan hidup dan mati, sampai tak kenal lelah membesarkan dan mendidik anak.
Banyak apresiasi yang dihasilkan kebudayaan untuk kaum wanita seperti taj mahal, sejarah yang mencatat peranan wanita dalam peradaban suatu bangsa seperti cut nyak dien, bahkan TUHAN pun menempatkan wanita pada kedudukan yang spesial seperti terdapat dalam Alquran ada suatu surat yang bernama Annisa (yang artinya wanita) dan surat Maryam (seorang wanita suci ibunda dari Nabi Isa).
Nah, peran wanita yang besar ini tak luput dalam perkembangan seni beladiri didunia. Dapat dilihat dari beberapa jenis seni beladiri didunia yang diciptakan oleh wanita seperti seni beladiri Baihe Quan atau kungfu bangau putih yang diciptakan oleh seorang wanita yang bernama Fang Qinian (kungfu bangau putih merupakan nenek moyang karate), kemudian ada wing chun yang diciptakan oleh seorang wanita (karate memiliki hubungan dari dua aliran tersebut terutama dari goju-ryu), dan pencak cimande yang menurut legenda abah khair sebagai pencipta pencak cimande belajar beladiri kepada istrinya.
Wanita wajib dilindungi bukan karena lemah namun karena mereka berharga.
Senin, 14 Maret 2016
Sepotong Kue dan Seni Beladiri
Apakah anda menyukai memakan kue ulang tahun atau kue tart? for me, i really love it. Baik itu yang rasa coklat maupun keju atau rasa lainnya. Ditambah kue itu ada pada saat waktu yang spesial, entah ulang tahun ataupun hari jadi lainnya. dan tentunya kue tersebut tidak mungkin dimakan sendiri, kue tersebut akan dibagi oleh teman atau keluarga yang kita cintai.
Lalu apakah kita akan membahas resep membuat kue tart?
Nope,
Kemudian apakah ada hubungannya antara sweety creamy lovely cake dengan karate?
Coba kita bayangkan semua seni beladiri yang ada didunia ini ibarat kue tart yang besar, menarik, lezat dan beraneka rasa. Terdengar sangat menggiurkan? Namun setelah lilin ditiup dan kue dipotong anda hanya mendapatkan sepotong kue kecil bagian dari kue tart. You can have it all if you want have diabetes.
Sahabat, apa yang anda pelajari dan kuasai saat ini dari suatu jenis seni beladiri (sepotong kue) atau bahkan salah satu aliran dari suatu jenis beladiri (lebih kecil lagi potongan kuenya) merupakan bagian kecil dari keanekaragaman hasil karya, rasa, karsa, dan raga yang dihasilkan manusia dari seluruh penjuru dunia.
Anda ingin menguasai seluruhnya? Semangat yang bagus, namun kecil kemungkinan dilakukan seperti anda ingin memakan seluruh kue tart sendiri, perut anda tidak akan cukup menampungnya. Jika hanya sekedar mencicipi rasa disetiap bagian kue anda tidak akan dapat mencapai inti dari seni beladiri yang dicicipi.
Tapi tidak ada yang tidak mungkin, berkaca pada sejarah karate yang tercipta dari beberapa aliran quan fa (seni beladiri tiongkok), qinna / torite (seni beladiri titik tekan), shuai chiao / tegumi (teknik bantingan), tigwa (pengaruh dari seni muay boran), hsing / kata (Jurus), semua itu diramu oleh orang okinawa dan digabungkan seni beladiri mereka (tote).
Maka lahirlah karate yang tentunya penggabungan tersebut melalui proses panjang, dedikasi yang tinggi dari banyak ahli yang terlibat dan waktu yang lama karena diturunkan dari guru kemurid dan dari generasi kegenerasi.
Seperti pada kebudayaan yang pasti berkembang, berinovasi, berubah, menyerap kebudayaan lain dan bahkan terlupakan. Karate yang merupakan produk dari kebudayaanpun mengalami hal yang sama, dari awal terbentuknya mendapat pengaruh dari negeri sekitar, berinovasi dalam penambahan teknik, berkembang menjadi salah satu cabang olah raga, dan tidak diperdulikan dinegeri asalnya (menurutku hal ini dapat terjadi disetiap kesenian dan seni beladiri termasuk seni beladiri asli indonesia yang kita cintai).
kembali kepada kue kecil dengan irisan strawberry diatasnya yang kita dapat dari kemurahan hati pemilik, yang tentunya tidak pantas kita sombongkan kepada yang lain. Sama seperti seni beladiri apapun dan aliran apapun yang kita pelajari, tidak pantas kita memandang seni beladiri lainnya tidak lebih hebat dari yang kita miliki, kenyataannya kita masih memerlukan obat nyamuk untuk mengalahkan nyamuk yang lebih kecil dari kita.
Mari kita berfikir out of the box, menurutku tidaklah salah kita mempelajari seni beladiri lain atau memilih seni beladiri yang sesuai dengan kondisi tubuh dan kepribadian masing masing, selama kita masih menjaga etika yang berlaku dan tentunya berusaha melestarikan seni leluhur kita.
Seni beladiri tidak memerlukan sifat radikal yang harus dibela mati matian kawan. It's just a big delicious lovely cake.
Lalu apakah kita akan membahas resep membuat kue tart?
Nope,
Kemudian apakah ada hubungannya antara sweety creamy lovely cake dengan karate?
Coba kita bayangkan semua seni beladiri yang ada didunia ini ibarat kue tart yang besar, menarik, lezat dan beraneka rasa. Terdengar sangat menggiurkan? Namun setelah lilin ditiup dan kue dipotong anda hanya mendapatkan sepotong kue kecil bagian dari kue tart. You can have it all if you want have diabetes.
Sahabat, apa yang anda pelajari dan kuasai saat ini dari suatu jenis seni beladiri (sepotong kue) atau bahkan salah satu aliran dari suatu jenis beladiri (lebih kecil lagi potongan kuenya) merupakan bagian kecil dari keanekaragaman hasil karya, rasa, karsa, dan raga yang dihasilkan manusia dari seluruh penjuru dunia.
Anda ingin menguasai seluruhnya? Semangat yang bagus, namun kecil kemungkinan dilakukan seperti anda ingin memakan seluruh kue tart sendiri, perut anda tidak akan cukup menampungnya. Jika hanya sekedar mencicipi rasa disetiap bagian kue anda tidak akan dapat mencapai inti dari seni beladiri yang dicicipi.
Tapi tidak ada yang tidak mungkin, berkaca pada sejarah karate yang tercipta dari beberapa aliran quan fa (seni beladiri tiongkok), qinna / torite (seni beladiri titik tekan), shuai chiao / tegumi (teknik bantingan), tigwa (pengaruh dari seni muay boran), hsing / kata (Jurus), semua itu diramu oleh orang okinawa dan digabungkan seni beladiri mereka (tote).
Maka lahirlah karate yang tentunya penggabungan tersebut melalui proses panjang, dedikasi yang tinggi dari banyak ahli yang terlibat dan waktu yang lama karena diturunkan dari guru kemurid dan dari generasi kegenerasi.
Seperti pada kebudayaan yang pasti berkembang, berinovasi, berubah, menyerap kebudayaan lain dan bahkan terlupakan. Karate yang merupakan produk dari kebudayaanpun mengalami hal yang sama, dari awal terbentuknya mendapat pengaruh dari negeri sekitar, berinovasi dalam penambahan teknik, berkembang menjadi salah satu cabang olah raga, dan tidak diperdulikan dinegeri asalnya (menurutku hal ini dapat terjadi disetiap kesenian dan seni beladiri termasuk seni beladiri asli indonesia yang kita cintai).
kembali kepada kue kecil dengan irisan strawberry diatasnya yang kita dapat dari kemurahan hati pemilik, yang tentunya tidak pantas kita sombongkan kepada yang lain. Sama seperti seni beladiri apapun dan aliran apapun yang kita pelajari, tidak pantas kita memandang seni beladiri lainnya tidak lebih hebat dari yang kita miliki, kenyataannya kita masih memerlukan obat nyamuk untuk mengalahkan nyamuk yang lebih kecil dari kita.
Mari kita berfikir out of the box, menurutku tidaklah salah kita mempelajari seni beladiri lain atau memilih seni beladiri yang sesuai dengan kondisi tubuh dan kepribadian masing masing, selama kita masih menjaga etika yang berlaku dan tentunya berusaha melestarikan seni leluhur kita.
Seni beladiri tidak memerlukan sifat radikal yang harus dibela mati matian kawan. It's just a big delicious lovely cake.
Kamis, 10 Maret 2016
Kobudo
Kita sebagai manusia merupakan bagian dari alam, alam memiliki aturan tersendiri agar dapat terciptanya keharmonisan bagi para penghuninya. Tata keharmonisan yang diganggu akan menjadikan alam mencari caranya agar tetap terjadi keharmonisan.
Sebagai contoh, memang merupakan sifat air yang mana air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah air akan mencari jalannya sendiri bilamana jalan airnya terhalang maupun dataran rendah yang tertutup, maka dari itu akan terjadi musibah seperti longsor maupun banjir.
Begitu juga mahluk hidup, dalam menjaga kelangsungan hidup setiap mahluk hidup memiliki senjata alaminya sendiri untuk bertahan hidup, mencari makan, dan membeladiri. Sebagai contoh harimau memiliki taring dan cakar, gajah memiliki gading, ular memiliki bisa, laba laba memiliki jaring, lebah memiliki sengat bahkan pohonpun memiliki duri. Lalu bagaimana dengan manusia?
Muncul pertanyaan mengenai organ apa yang bisa dijadikan manusia sebagai sarana untuk membeladiri apakah tangan, kaki, gigi, kuku? jawabannya adalah otak.
Manusia tidak dianugrahi kuku tajam, tanduk, taring maupun bulu untuk melindungi udara dingin. Namun manusia dianugrahi akal untuk menciptakan alat yang dapat mempermudah hidup manusia seperti baju, rumah termasuk senjata untuk melindungi diri.
Kenyataannya kawan, organ ini sangat berbahaya bila dibandingkan taring, tanduk, cakar dll. Telah tercatat dalam sejarah, senjata yang diciptakan manusia dimulai dari kapak batu hingga bom nuklir telah memakan banyak korban jiwa. Hal ini menjadikan kita menjadi lebih buas dan brutal dari binatang liar.
Mengapa manusia dapat seperti itu? manusia telah melewati batas penggunaan senjata dikarenakan kita tidak memakai hati dan fikiran yang jernih dalam menggunakannya. Maka dari itu dalam seni beladiri juga ditanamkan filosofi kehidupan dan nilai nilai kemanusiaan. Agar apa yang dipelajarinya tidak mencelakakan diri sendiri dan orang lain dan ilmu yang dipelajarinya bermanfaat bagi manusia lainnya (keharmonisan antar manusia)
Membahas mengenai senjata taukah anda bahwa karate memiliki saudara? Ia dikenal dengan kobudo. Yang memiliki arti jalan seni beladiri kuno. Karate dan Kobudo sama sama berasal dari perfektur Okinawa di Jepang. Karate dan Kobudo adalah sepasang seni beladiri yang tak terpisahkan bagaikan kaki kanan dan kaki kiri, yang mana bila tidak ada salah satunya maka akan menjadi pincanglah jalannya.
Berbeda dengan karate yang mana kita melatih tubuh kita seperti tangan dan kaki menjadi kuat agar dapat berfungsi sebagai senjata (body conditioning). Kobudo justru melatih penggunaan senjata.
Senjata yang digunakan merupakan hasil modifikasi dari alat alat pertanian dan alat alat keseharian. Hal ini dikarenakan pada masa dahulu ketika kepulauan Ryukyu (sekarang Okinawa) dikuasai oleh klan samurai Satsuma dari Jepang melarang bagi orang Okinawa untuk membawa senjata. Maka dari itu orang Okinawa menciptakan seni beladiri kobudo dengan memodifikasi alat alat keseharian dan tentunya karate.
Perlu digaris bawahi bahwa terciptanya kobudo dan karate bukanlah dari kalangan petani. Dua seni beladiri itu disusun oleh para golongan Peichin, golongan kesatria dan golongan terpelajar yang pada waktu kerajaan ryukyu masih berdiri mereka memperoleh kesempatan mempelajari teknik seni beladiri dari dataran tiongkok dan negeri sekitarnya yang kemudian digabungkan dengan seni beladiri asli Okinawa "Tote"
Maka tak heran bila senjata yang berada dikobudo memiliki kesamaan dari senjata yang dimiliki oleh beberapa seni beladiri di Tiongkok dan Asia Tenggara. Apa saja senjata yang ada di kobudo?
1. Bo : toya atau tongkat yang panjangnya sekitar 1,8 M terbuat dari kayu.
2. Sai : dipencak silat dikenal dengan besi cabang, terbuat dari besi, digunakan secara sepasang.
3. Tonfa : kita kenal seperti tongkat "t" seperti yang digunakan oleh polisi dan security, terbuat dari kayu dan digunakan sepasang.
4. Kama : seperti alat untuk sabit, terbuat dari besi dan kayu dan digunakan sepasang.
5. Nunchaku : double stick
6. Tekko : pelindung tangan untuk memukul terbuat dari besi digunakan sepasang
7. Tinbe & Rochin : tameng dan tombak kecil
8. Surujin : terbuat dari rantai kecil atau tali tambang dengan pemberat dikedua ujungnya.
9. Eku : berbentuk seperti dayung terbuat dari kayu
Baik karate maupun kobudo (tangan kosong maupun bersenjata) keduanya dasarnya sama merupakan salah satu usaha kita untuk membeladiri. Dalam situasi dilapangan yang mana keduanya diharapkan digunakan dalam kondisi yang sesuai, bila kita dapat melawan dengan tangan kosong (dan itu yang lebih efektif pada saat itu) maka kita hadapi dengan tangan kosong, bila lawan lebih kuat dari kita dan terdapat benda apapun yang bisa dijadikan senjata maka kita jadikan benda itu untuk menyerangnya, namun bila lawan lebih kuat lagi atau jumlahnya diluar kemampuan kita maka kita bisa berlari dan meminta tolong orang lain.
Sebagai contoh, memang merupakan sifat air yang mana air mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah air akan mencari jalannya sendiri bilamana jalan airnya terhalang maupun dataran rendah yang tertutup, maka dari itu akan terjadi musibah seperti longsor maupun banjir.
Begitu juga mahluk hidup, dalam menjaga kelangsungan hidup setiap mahluk hidup memiliki senjata alaminya sendiri untuk bertahan hidup, mencari makan, dan membeladiri. Sebagai contoh harimau memiliki taring dan cakar, gajah memiliki gading, ular memiliki bisa, laba laba memiliki jaring, lebah memiliki sengat bahkan pohonpun memiliki duri. Lalu bagaimana dengan manusia?
Muncul pertanyaan mengenai organ apa yang bisa dijadikan manusia sebagai sarana untuk membeladiri apakah tangan, kaki, gigi, kuku? jawabannya adalah otak.
Manusia tidak dianugrahi kuku tajam, tanduk, taring maupun bulu untuk melindungi udara dingin. Namun manusia dianugrahi akal untuk menciptakan alat yang dapat mempermudah hidup manusia seperti baju, rumah termasuk senjata untuk melindungi diri.
Kenyataannya kawan, organ ini sangat berbahaya bila dibandingkan taring, tanduk, cakar dll. Telah tercatat dalam sejarah, senjata yang diciptakan manusia dimulai dari kapak batu hingga bom nuklir telah memakan banyak korban jiwa. Hal ini menjadikan kita menjadi lebih buas dan brutal dari binatang liar.
Mengapa manusia dapat seperti itu? manusia telah melewati batas penggunaan senjata dikarenakan kita tidak memakai hati dan fikiran yang jernih dalam menggunakannya. Maka dari itu dalam seni beladiri juga ditanamkan filosofi kehidupan dan nilai nilai kemanusiaan. Agar apa yang dipelajarinya tidak mencelakakan diri sendiri dan orang lain dan ilmu yang dipelajarinya bermanfaat bagi manusia lainnya (keharmonisan antar manusia)
Membahas mengenai senjata taukah anda bahwa karate memiliki saudara? Ia dikenal dengan kobudo. Yang memiliki arti jalan seni beladiri kuno. Karate dan Kobudo sama sama berasal dari perfektur Okinawa di Jepang. Karate dan Kobudo adalah sepasang seni beladiri yang tak terpisahkan bagaikan kaki kanan dan kaki kiri, yang mana bila tidak ada salah satunya maka akan menjadi pincanglah jalannya.
Berbeda dengan karate yang mana kita melatih tubuh kita seperti tangan dan kaki menjadi kuat agar dapat berfungsi sebagai senjata (body conditioning). Kobudo justru melatih penggunaan senjata.
Senjata yang digunakan merupakan hasil modifikasi dari alat alat pertanian dan alat alat keseharian. Hal ini dikarenakan pada masa dahulu ketika kepulauan Ryukyu (sekarang Okinawa) dikuasai oleh klan samurai Satsuma dari Jepang melarang bagi orang Okinawa untuk membawa senjata. Maka dari itu orang Okinawa menciptakan seni beladiri kobudo dengan memodifikasi alat alat keseharian dan tentunya karate.
Perlu digaris bawahi bahwa terciptanya kobudo dan karate bukanlah dari kalangan petani. Dua seni beladiri itu disusun oleh para golongan Peichin, golongan kesatria dan golongan terpelajar yang pada waktu kerajaan ryukyu masih berdiri mereka memperoleh kesempatan mempelajari teknik seni beladiri dari dataran tiongkok dan negeri sekitarnya yang kemudian digabungkan dengan seni beladiri asli Okinawa "Tote"
Maka tak heran bila senjata yang berada dikobudo memiliki kesamaan dari senjata yang dimiliki oleh beberapa seni beladiri di Tiongkok dan Asia Tenggara. Apa saja senjata yang ada di kobudo?
1. Bo : toya atau tongkat yang panjangnya sekitar 1,8 M terbuat dari kayu.
2. Sai : dipencak silat dikenal dengan besi cabang, terbuat dari besi, digunakan secara sepasang.
3. Tonfa : kita kenal seperti tongkat "t" seperti yang digunakan oleh polisi dan security, terbuat dari kayu dan digunakan sepasang.
4. Kama : seperti alat untuk sabit, terbuat dari besi dan kayu dan digunakan sepasang.
5. Nunchaku : double stick
6. Tekko : pelindung tangan untuk memukul terbuat dari besi digunakan sepasang
7. Tinbe & Rochin : tameng dan tombak kecil
8. Surujin : terbuat dari rantai kecil atau tali tambang dengan pemberat dikedua ujungnya.
9. Eku : berbentuk seperti dayung terbuat dari kayu
Baik karate maupun kobudo (tangan kosong maupun bersenjata) keduanya dasarnya sama merupakan salah satu usaha kita untuk membeladiri. Dalam situasi dilapangan yang mana keduanya diharapkan digunakan dalam kondisi yang sesuai, bila kita dapat melawan dengan tangan kosong (dan itu yang lebih efektif pada saat itu) maka kita hadapi dengan tangan kosong, bila lawan lebih kuat dari kita dan terdapat benda apapun yang bisa dijadikan senjata maka kita jadikan benda itu untuk menyerangnya, namun bila lawan lebih kuat lagi atau jumlahnya diluar kemampuan kita maka kita bisa berlari dan meminta tolong orang lain.
Langganan:
Postingan (Atom)






