Ikken hissatsu adalah istilah dalam karate yang memiliki arti; membunuh dengan satu serangan atau satu pukulan, pasti mati.
Terdengar mengerikan yah!
Tentunya kita tidak ingin membunuh siapapun bukan? Namun apakah anda benar bisa membunuh lawan dengan satu pukulan?
Beberapa orang percaya satu pukulan dapat langsung membunuh lawannya dan yang lainnya berpendapat bahwa hal itu mustahil membunuh lawan hanya dengan sekali pukul.
Bila kita cermati lebih dalam membunuh dengan satu pukulan bisa saja terjadi, namun tentunya harus dengan tepat sasaran, momentum yang pas, dan membutuhkan pukulan yang amat keras.
Kesempatan seperti ini jarang sekali terjadi dan bila kesempatan itu terbuka lalu dieksekusi dengan teknik yang sempurna maka ikken hissatsu bukanlah hal yang mustahil. Kembali lagi kepada istilah tersebut yang mana memang lebih pantas untuk seni beladiri asal istilah tersebut yaitu pada Kenjutsu / seni beladiri pedang.
Dalam kenjutsu ditekankan satu ayunan pedang adalah untuk satu nyawa namun bila diterapkan dalam seni beladiri karate tentunya jauh sekali berbeda mengingat penggunaan pedang dibandingkan dengan kepalan tangan.
Bagi penulis ikken hissatsu dalam karate dapat diartikan dengan pendekatan filosofis atau memaknainya tidak secara literal sehingga ikken hissatsu tidak hanya dapat digunakan dalam karate dan seni beladiri namun dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari hari seperti dalam bisnis.
Jadi begini,
Tujuan utama dari ikken hissatsu adalah menyelesaikan serangan dalam satu kali teknik namun bila serangan tersebut gagal tentunya harus ada serangan kedua dan bila gagal kembali tidak menutup kemungkinan ada teknik ketiga dan seterusnya.
Selama serangan anda intent dan selalu berfikir teknik serangan pertama adalah langsung mematikan namun jangan berhenti sampai disitu, jadikan setiap serangan merupakan serangan mematikan anda.
Dalam kebudayaan barat dikenal dengan suatu istilah dalam bahasa latin yaitu Carpe Diem, yang memiliki makna bila lawan terbuka celah maka anda harus memanfaatkannya 100%, karena mungkin kesempatan tersebut tidak datang kembali.
Ikken hissatsu tentunya tidak hanya untuk pukulan saja. Perinsip tersebut dapat digunakan dalam berbagai macam teknik seperti tendangan, bantingan, tangkisan, dll. Sebagai contoh ketika kita menangkis pukulan kita harus menangkis dengan sungguh sungguh sehingga lawan mengalami cidera di tangannya dan tidak dapat menggunakan tangannya kembali.
Sebagai penutup, untuk menerapkan ikken hissatsu ini anda harus benar benar ahli dalam suatu teknik dan menurut penelitian dalam bidang olah raga seseorang dapat menjadi ahli dalam suatu teknik bila gerakkan tersebut dilakukan secara konsisten sebanyak 10,000 kali pengulangan.
Banyak yah! Tapi, itulah karate you'll never stop training.
Jumat, 06 Januari 2017
Jumat, 02 Desember 2016
Sehat dan Panjang Umur ala Okinawa
Siapa yang tidak tahu dengan negara Jepang. Suatu negara yang terkenal dengan tekhnologinya, seni beladirinya, industri kreatifnya, dan kebudayaannya. Namun saat ini kita tidak akan membahas hal tersebut.
Selain terkenal dengan beberapa hal tersebut jepang juga terkenal dengan jumlah penduduk seniornya yang tinggi (jika tidak mau dibilang tua). Tidak hanya berumur panjang para oma dan opa di sanapun fisiknya masih sangat prima.
Hmmm... Apa rahasianya ya?
Setiap orang pasti ingin hidup panjang umur, sehat, sentosa, sejahtera, dan berkah. Namun hal itu tidak dapat diraih jika kita tidak bergaya hidup sehat yang tentunya dimulai sejak dini. Kita bisa mencontoh gaya hidup mereka yang mana sesuai dengan data statistik dan penelitian sudah membuktikannya.
Menurut survey dari seluruh bagian jepang, angka penduduk berumur panjang yang terbanyak berada pada daerah Okinawa. Yes, the birth place of karate. Berikut ini kiat kiat gaya hidup mereka yang bisa kita contoh:
• Mengatur asupan makanan yang rendah kalori dan bernutrisi tinggi.
Dalam mengatur asupan makanan mereka menggunakan istilah "hara hachi bu" yaitu memakan hanya sampai 80% dari rasa kenyang. Mereka rata rata hanya makan 1,500 kalori setiap harinya.
• Mengkonsumsi buah dan sayuran
Mereka mengkonsumsi sayuran yang berwarna hijau dan kuning contohnya yaitu Goya, mungkin di indonesia tidak asing lagi dengan sayuran ini. Pare, yup goya adalah pare. Opa dan oma disana suka makan sayuran yang pahit ini.
• Kedelai
Banyak makanan yang diolah dengan bahan dasar kedelai di okinawa sehingga konsumsi kedelai di sana sangat tinggi. Namun kedelai di okinawa berbeda dengan di tanah air, kita mengimpor dari amerika yang mana kedelai tersebut sudah termodifikasi genetikanya. But anyway tetap makan tempe anda ya.
• Mengkonsumsi ubi jalar
Bila dibandingkan dengan nasi mereka lebih banyak memakan ubi jadi pada saat makan mereka makan sedikit nasi saja.
• Menyukai ikan
Tidak susah mencari ikan segar di okinawa, hal ini didukung karena provinsi tersebut merupakan kepulauan. Dan pun mereka rajin sekali mengkonsumsi ikan.
• Tidak merokok
Mereka tidak suka rokok, mereka minum beralkohol namun dalam takaran yang sedikit.
• Suka berkebun, menjala ikan, dan berkegiatan fisik diluar ruangan.
Selain suka sayuran mereka juga menanam sendiri sayurannya. Setiap oma opa di sana tidak pernah pensiun terhadap pekerjaannya mereka akan tetap bekerja keras dengan berkebun, menjala ikan. Jadi mereka tetap berkegiatan fisik walau sudah sepuh.
Selain itu mereka punya konsep "ishoku dogen" yang bermakna makanan dan obat berasal dari satu sumber. Sehingga ditiap pekarangan terdapat kebun kecil dan apotik hidup.
• Vitamin D
Vitamin D diperoleh dari dalam tubuh dengan bantuan sinar matahari. Jadi jangan takut kulitmu jadi gelap ya guys.
• Memakan daging
Daging yang mereka makan adalah daging babi namun dikonsumsi sangat sedikit sekali yaitu pada acara perayaan tertentu saja. Jadi makan daging yang bijak ya.
• Ikatan sosial yang tinggi (Moai)
Rasa memiliki satu sama lain sangat erat disana sehingga mereka selalu punya teman baik senang maupun susah. Mereka tidak pernah khawatir terhadap kesulitan ekonomi dan kerepotan yang biasa kita alami, karena mereka selalu bagian dari group yang saling bahu membahu untuk membantu sesama. Istilah untuk ini disebut Moai.
• Ikigai
Menyeimbangkan fisik dan mental adalah kunci hidup sehat dan panjang umur. Selalu relax jauhkan dari stress, berfikir positif dan gembira selalu terlihat diwajah oma opa di sana. Selalu bersyukur dan menerima apa yang telah diperoleh mampu menguatkan mental anda. Didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat.
• Karate
Bila anda pergi ke okinawa untuk berlatih karate yang akan anda temukan adalah banyak master yang sudah berumur lebih dari delapan puluh tahun dan jangan salah anda pasti dapat dikalahkan oleh mereka. Dalam seni beladiri karate diajarkan secara paripurna baik seni, beladiri, kesehatan, dll termasuk pernapasan yang akan membantu metabolisme anda.
Ok itulah beberapa tips dari penduduk okinawa bagaimana mereka menjaga kondisi fisik dan psikis mereka agar selalu sehat sampai usia lanjut. Di lain sisi terdapat pengaruh barat terutama pada tahun 60an saat berdirinya pangkalan militer amerika di okinawa yang berdampak pada berdirinya gerai junk food sehingga menyebabkan berubahnya gaya hidup generasi muda okinawa.
Kembali lagi, selama apapun anda hidup hendaknya diisi hal yang bermanfaat dan selalu menjaga kehidupan dikarenakan umur yang anda miliki berada dibawah kekuasaan sang pemilik kehidupan.
Live is only once if you do it right, once is enough.
Kamis, 01 Desember 2016
Chibana Chosin
Pada artikel kali ini saya akan mengangkat suatu tulisan yang ditulis oleh seorang master karate yang bernama Chibana Choshin (1885-1969), Beliau adalah pendiri dari Kobayashi-ryu.
Artikel ini sangat bermanfaat bagi karateka tanpa memandang alirannya, karena dapat membuka pandangan anda terhadap seni beladri ini. Berikut ini artikel tersebut:
Butoku
Master Anko Itosu mempelajari karate dengan sangat gigih, ia tidak hanya ahli dalam karate namun juga seorang yang berpendidikan dan ahli dalam kaligrafi. Aku mengunjungi beliau pada tahun 1899 untuk memintanya mengajariku Uchinan-no-te (nama kuno dari karate).
Dua kali ia menolakku dan meninggalkan diriku didepan gerbangnya, hanya pada permintaan ketiga kalinya diriku baru diterima sebagai murid pribadinya.
Ia mengajarkan karate sangat rahasia di rumahnya dengan menyeleksi muridnya yang hanya terdiri dari enam sampai tujuh orang. Mereka berlatih karate sebagai Bu (seni beladiri) bukan sebagai cabang olah raga seperti yang terjadi saat ini. Pada saat itu dirikupun berlatih secara sembunyi bahkan dari keluargaku sendiri.
Sampai pada tahun 1903 atau 1904 Itosu sensei mulai menyebarkan karate secara umum di sekolah sekolah. Pada saat itulah saya mengaku kepada orang tua saya bahwa saya tidak bersekolah malahan berlatih karate.
Pada tahun 1918 sekelompok karateka yang terdiri dari Hanashiro Chomo, Kyan Chotoku, Miyagi Chojun, Mabuni Kenwa, Go Kenki, Oshiro Chojo, Yabu Kentsu, Kyoda Juhatsu, Yabiku Moden dan diriku membentuk group yang bertujuan untuk mempelajari karate mengingat dua guru besar telah meninggal (Anko Itosu dan Kanryo Higaonna keduanya wafat pada tahun 1915). Group ini bernama Karate Kenkyukai yang didirikan di kota Shuri.
Saat itu adalah pertama kalinya master karate dari berbagai aliran (Shuri, Naha, Tomari) bertemu, berlatih bersama, dan saling bertukar pengetahuan karatenya. Setiap pertemuan satu orang senior akan memimpin latihan sehingga semua orang akan mendapatkan ilmu yang lengkap.
Hal ini berlangsung hanya sampai pada tahun 1929 dikarenakan seni beladiri ini semakin populer dan masing masing master sibuk dengan muridnya yang terus bertambah.
Aku mulai mengajar Shuri-te Karate-jutsu pada tahun 1920 namun baru pada tahun 1929 dan berumur 44 tahun diriku baru membuka dojo di kota Shuri. Pada tahun 1933 teman baikku dan juga rekan sesama karate yaitu Chojun Miyagi bersama sama mendaftarkan nama aliran kami di Dai Nippon Butokukai (Asosiasi Seni Beladiri Jepang), aku menamai gaya karate yang aku ajarkan dengan Shorin-Ryu (aliran hutan kecil) dan Chojun Miyagi menamai gaya karatenya Goju-Ryu (aliran keras dan lembut).
Kami berdua teman yang akrab sampai beliau meninggal pada tahun 1953, kami semua merasakan kehilangan.
Para praktisi seni beladiri okinawa yang sejati tidak akan mencari nafkah dari seni beladiri yang mereka ajarkan. Seorang karateka akan mencari nafkah diluar dari seni beladiri sehingga seni beladiri tidak akan terkontaminasi dari istilah "Mesin Uang". Inilah pandangan hidup orang okinawa.
Setiap tahunnya karate akan mengalami perubahan dan hal ini adalah fenomena yang wajar. Seorang pelatih harus terbuka pandangannya dengan trobosan baru dan terus belajar hal yang baru. Bila seorang pelatih menolak untuk belajar hal baru dan menerima ide, gagasan yang baru maka akan terjadi stagnansi, kebosanan, dan lama kelamaan karate akan hilang.
Pada saat ini banyak karateka berlatih tidak dengan serius. Pada saat latihan mereka hanya berfikir "kapan latihan ini akan berakhir" dan tidak bertujuan terhadap perkembangan yang diperolehnya.
Anda harus berlatih sungguh sungguh bila ingin mendapatkan perkembangan yang baik. Jika anda hanya berlatih setengah setengah lebih baik berlatih yang lain daripada membuang waktu.
Jika pelatih melatih dengan sepenuh hati maka ia akan mengharapkan muridnya berlatih dengan gigih. Jika demikian maka pelatih dan murid akan berkembang bersama, murid akan memotivasi pelatih dan pelatih akan mengajarkan karate yang benar dan memberikan semangat kepada murid.
Saat anda berlatih anda harus mencurahkan seluruh jiwa raga anda untuk karate. Buang semua fikiran selain pada karate. anda harus benar benar memfokuskan fikiran, tangan, dan kaki anda. Anda tidak hanya mempelajari gerakkan fisik saja namun juga seni dari karate itu sendiri.
Hendaknya anda mengembangkan diri anda sebelum anda mencapai usia lima puluh tahun, dikarenakan tubuh anda secara alami akan mengalami penuaan pada usia lima puluh tahun. Maka dari itu anda harus berkesinambungan melatih diri anda dan jika pada usia lima puluh tahun anda masih rutin berlatih maka penuaanpun tidak terlalu berpengaruh pada mental dan fisik anda.
Pada masa lalu karate dilatih sebagai seni beladiri berbeda dengan saat ini yang mana karate dilatih sebagai olah raga gymnasium. Dan memang seharusnya karate dilatih sebagai seni beladiri. Latihlah jari tangan dan jari kaki anda seperti mata panah dan tangan keras seperti besi, inilah semangat yang harus anda tanamkan untuk mengembangkan diri anda.
Namun tidak hanya fisik saja yang harus kita latih, kita juga harus berlatih dan meneliti kata / jurus serta aplikasinya. Karena hal yang sangat penting adalah memahami kata dan melatih tubuh anda untuk memahami inti dari karate. Hal ini akan menjadikan anda memiliki kekuatan lima sampai enam kali lipat jika anda berlatih dengan keras.
Terdapat dua faktor yang menentukan kesuksesan yaitu usaha dan terus belajar. Gerakan anda harus tajam (tidak boleh lambat) dan jika anda berlatih kata mata anda akan tajam serta tangkisan dan serangan anda akan semakin kuat.
Bahkan jika anda telah mencapai umur tujuh puluh atau delapan puluh anda harus tetap belajar, berlatih, dan meneliti karate dengan sikap yang positif dan selalu menanamkan dalam fikiran anda "belum cukup, belum cukup...".
Itulah sedikit tulisan dari master Chibana Chosin, beliau wafat tahun 1969 pada usia 83 tahun.
He never stopped training.
Rabu, 16 November 2016
Rasa Takut
Apakah anda takut dalam berlatih sparring?
Tenang, anda tidak sendiri. Karena banyak praktisi seni beladiri yang baru berlatih atau yang sudah lama namun jarang berlatih sparring memiliki kendala yang sama yaitu takut.
Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Takut menurut ahli psikologi merupakan hal yang normal karena takut adalah salah satu emosi dasar manusia selain bahagia, sedih, dan marah.
Para petarung dunia yang berlaga di arenapun memiliki rasa takut terhadap lawan yang akan dihadapinya. Mereka tidak melawan rasa takut tersebut namun mereka menerima rasa takut tersebut.
Kadang kita menyangkal ketakutan dan bahkan mengabaikannya. Padahal keberanian tak akan muncul begitu saja tanpa kita menyadari bahwa ketakutan harus dilawan atau diatasi. Akui bahwa rasa takut kita memang ada dan nyata (langkah pertama dalam mengendalikan situasi). Jangan pernah menilai rasa takut itu sebagai sesuatu yang baik atau buruk. Biarkan rasa takut tersebut muncul dengan sendirinya dan tak usah menilainya, biarkan mengalir secara alami dan kita harus menerimanya.
Terdapat kiat kiat khusus untuk melatih sparring dengan rasa takut didalam diri. Pertama kita umpamakan bahwa sparring itu adalah berenang didalam kolam renang yang sangat dalam. Tentunya bila kita tidak belajar berenang terlebih dahulu dengan menggunakan alat khusus seperti pelampung atapun didampingi langsung oleh ahli maka kita akan tenggelam.
Terdapat hal yang memprihatinkan, yaitu banyak pelatih yang langsung menerjunkan muridnya kedalam sparring tanpa mengetahui kondisi psokologis dan teknik dari anak didiknya. Hal ini diibaratkan melempar anak kedalam kolam yang dalam padahal ia tidak bisa berenang.
(Banyak orang tua yang bertanya kepada saya mengenai seni beladiri apa yang baik untuk perkembangan anak, maka saya menjawab apapun seni beladirinya yang terpenting adalah pelatihnya apakah mengetahui ilmu psikiologi, ilmu mekanisme tubuh, p3k, dan lain sebagainya)
Berikut ini tips dalam sparring untuk menghindari cidera yang fatal dan mengelola rasa takut:
1. Yakso kumite / pertarungan perjanjian
Kumite ini dilakukan kepada kedua belah pihak atau lebih yang mana masing masing telah sepakat terhadap peran yang akan dilakukan (apakah ia yang menyerang atau bertahan). Dalam kumite ini masing masing peserta sudah mengetahui tekniknya dan dilakukan secara instruksi.
2. Menggunakan pengaman
Penggunaan pengaman saat sparring wajib diperlukan, tentunya untuk menghindari cidera. Pada tahap ini instruksi tidak lagi diperlukan, jadi setiap karateka harus memiliki naluri kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan. Pada tahap inipun dapat ditentukan siapa yang menyerang dan siapa yang bertahan namun untuk teknik diharapkan dapat berimprovisasi.
3. Membatasi target sasaran
Untuk melatih keberanian, membatasi target sasaran sangat diperlukan selain melatih keberanian latihan ini juga berfungsi untuk mengasah teknik agar tajam dan akurat. Setelah terlihat perkembangan yang signifikan kemudian dapat memperluas target sasaran contohnya dari yang hanya target sasarannya leher kebawah dan sabuk keatas diperluas menjadi seluruh tubuh.
4. Jiyu kumite / pertarungan bebas
Pada tahap ini tidak ada instruksi gerakan dan sasarannya pun bebas. Kumite ini dilakukan ketika karateka sudah berani dan percaya diri terhadap teknik yang dimiliki. Naluri menyerang dan bertahan serta taktik dan strateginya sudah matang. Untuk tahap ini penggunaan pengaman masih diperlukan namun penggunaan tenaga dan kecepatan dapat sampai tingkat maksimal.
5. Full contact kumite
Pada full contact kumite tubuh akan merasakan benturan yang sangat keras jika serangan lawan mengenai kita. Peraturannya pun sangat bebas dan pemenang hanya ditentukan saat lawan benar benar tidak mampu lagi melawan. Untuk kumite tahap ini hanya diperuntukkan bagi karateka yang sudah matang baik fisik, psikis dan tekniknya.
Itulah beberapa tips untuk melatih keberanian dalam sparring. Tips tersebut hanyalah sebagai sarana anda mengatasi rasa takut, pada intinya semua kembali kedalam diri anda yaitu bagaimana anda mengelola mindset anda.
Tenang, anda tidak sendiri. Karena banyak praktisi seni beladiri yang baru berlatih atau yang sudah lama namun jarang berlatih sparring memiliki kendala yang sama yaitu takut.
Takut adalah suatu mekanisme pertahanan hidup dasar yang terjadi sebagai respons terhadap suatu stimulus tertentu, seperti rasa sakit atau ancaman bahaya. Takut menurut ahli psikologi merupakan hal yang normal karena takut adalah salah satu emosi dasar manusia selain bahagia, sedih, dan marah.
Para petarung dunia yang berlaga di arenapun memiliki rasa takut terhadap lawan yang akan dihadapinya. Mereka tidak melawan rasa takut tersebut namun mereka menerima rasa takut tersebut.
Kadang kita menyangkal ketakutan dan bahkan mengabaikannya. Padahal keberanian tak akan muncul begitu saja tanpa kita menyadari bahwa ketakutan harus dilawan atau diatasi. Akui bahwa rasa takut kita memang ada dan nyata (langkah pertama dalam mengendalikan situasi). Jangan pernah menilai rasa takut itu sebagai sesuatu yang baik atau buruk. Biarkan rasa takut tersebut muncul dengan sendirinya dan tak usah menilainya, biarkan mengalir secara alami dan kita harus menerimanya.
Terdapat kiat kiat khusus untuk melatih sparring dengan rasa takut didalam diri. Pertama kita umpamakan bahwa sparring itu adalah berenang didalam kolam renang yang sangat dalam. Tentunya bila kita tidak belajar berenang terlebih dahulu dengan menggunakan alat khusus seperti pelampung atapun didampingi langsung oleh ahli maka kita akan tenggelam.
Terdapat hal yang memprihatinkan, yaitu banyak pelatih yang langsung menerjunkan muridnya kedalam sparring tanpa mengetahui kondisi psokologis dan teknik dari anak didiknya. Hal ini diibaratkan melempar anak kedalam kolam yang dalam padahal ia tidak bisa berenang.
(Banyak orang tua yang bertanya kepada saya mengenai seni beladiri apa yang baik untuk perkembangan anak, maka saya menjawab apapun seni beladirinya yang terpenting adalah pelatihnya apakah mengetahui ilmu psikiologi, ilmu mekanisme tubuh, p3k, dan lain sebagainya)
Berikut ini tips dalam sparring untuk menghindari cidera yang fatal dan mengelola rasa takut:
1. Yakso kumite / pertarungan perjanjian
Kumite ini dilakukan kepada kedua belah pihak atau lebih yang mana masing masing telah sepakat terhadap peran yang akan dilakukan (apakah ia yang menyerang atau bertahan). Dalam kumite ini masing masing peserta sudah mengetahui tekniknya dan dilakukan secara instruksi.
2. Menggunakan pengaman
Penggunaan pengaman saat sparring wajib diperlukan, tentunya untuk menghindari cidera. Pada tahap ini instruksi tidak lagi diperlukan, jadi setiap karateka harus memiliki naluri kapan harus menyerang dan kapan harus bertahan. Pada tahap inipun dapat ditentukan siapa yang menyerang dan siapa yang bertahan namun untuk teknik diharapkan dapat berimprovisasi.
3. Membatasi target sasaran
Untuk melatih keberanian, membatasi target sasaran sangat diperlukan selain melatih keberanian latihan ini juga berfungsi untuk mengasah teknik agar tajam dan akurat. Setelah terlihat perkembangan yang signifikan kemudian dapat memperluas target sasaran contohnya dari yang hanya target sasarannya leher kebawah dan sabuk keatas diperluas menjadi seluruh tubuh.
4. Jiyu kumite / pertarungan bebas
Pada tahap ini tidak ada instruksi gerakan dan sasarannya pun bebas. Kumite ini dilakukan ketika karateka sudah berani dan percaya diri terhadap teknik yang dimiliki. Naluri menyerang dan bertahan serta taktik dan strateginya sudah matang. Untuk tahap ini penggunaan pengaman masih diperlukan namun penggunaan tenaga dan kecepatan dapat sampai tingkat maksimal.
5. Full contact kumite
Pada full contact kumite tubuh akan merasakan benturan yang sangat keras jika serangan lawan mengenai kita. Peraturannya pun sangat bebas dan pemenang hanya ditentukan saat lawan benar benar tidak mampu lagi melawan. Untuk kumite tahap ini hanya diperuntukkan bagi karateka yang sudah matang baik fisik, psikis dan tekniknya.
Itulah beberapa tips untuk melatih keberanian dalam sparring. Tips tersebut hanyalah sebagai sarana anda mengatasi rasa takut, pada intinya semua kembali kedalam diri anda yaitu bagaimana anda mengelola mindset anda.
Senin, 07 November 2016
Maai
Maai adalah istilah yang digunakan dalam seni beladiri jepang untuk mengungkapkan jarak dengan lawan. Dalam hal ini jarak tidak hanya untuk ruang namun juga waktu yang dibutuhkan untuk melakukan serangan kearah lawan, sudut serang dan ritme serangan.
Dengan kata lain anda harus berada pada posisi dan waktu yang tepat saat melakukan suatu serangan.
Sebagai contoh lawan yang memiliki kecepatan, maai akan lebih panjang dari yg lambat. Jadi suatu keharusan untuk menguasai maai yang menjadi kemampuannya dalam suatu pertarungan.
Dalam artian bahwa anda dapat melakukan serangan terlebih dahulu dari lawan anda, dibandingkan serangan secara simultan atau terpojok tanpa melakukan serangan balik.
Dalam mengoptimalkan maai, maka diperlukan footwork yang bagus karena penggunaan gerak langkah dapat menentukan jarak, ruang, dan sudut serang.
Bayangkan, bila anda kehabisan nafas dalam pertarungan anda dapat menurunkan tangan anda dan menarik nafas yang cukup atau mendorong lawan anda. Namun jangan sekali kali anda berhenti bergerak. Tetap bergerak / footwork dengan memberikan ruang aman maka dapat menjadi kesempatan anda untuk "isrirahat". Dan tentunya untuk melakukan serangan.
Di lain sisi berlawanan dengan gaya bertarung ofensif, banyak orang hanya terkonsentrasi untuk menyerang, namun jika lebih sabar serta memahami batas dari jangkauan lawan, kemudian mendapatkan waktu yang tepat maka pada saat itu lawan akan "terkunci" baik fisik maupun mental. Pada momen itulah waktu yang tepat melakukan serangan telak kearah lawan.
Gaya bertarung defensif atau counter menggunakan maai yang lebih sempit dan singkat dengan memperhitungkan angel / sudut serang, waktu, mengkonsentrasikan tenaga pada serangan, dan keakuratan sasaran pada daerah vital.
Dengan kata lain anda harus berada pada posisi dan waktu yang tepat saat melakukan suatu serangan.
Sebagai contoh lawan yang memiliki kecepatan, maai akan lebih panjang dari yg lambat. Jadi suatu keharusan untuk menguasai maai yang menjadi kemampuannya dalam suatu pertarungan.
Dalam artian bahwa anda dapat melakukan serangan terlebih dahulu dari lawan anda, dibandingkan serangan secara simultan atau terpojok tanpa melakukan serangan balik.
Dalam mengoptimalkan maai, maka diperlukan footwork yang bagus karena penggunaan gerak langkah dapat menentukan jarak, ruang, dan sudut serang.
Bayangkan, bila anda kehabisan nafas dalam pertarungan anda dapat menurunkan tangan anda dan menarik nafas yang cukup atau mendorong lawan anda. Namun jangan sekali kali anda berhenti bergerak. Tetap bergerak / footwork dengan memberikan ruang aman maka dapat menjadi kesempatan anda untuk "isrirahat". Dan tentunya untuk melakukan serangan.
Di lain sisi berlawanan dengan gaya bertarung ofensif, banyak orang hanya terkonsentrasi untuk menyerang, namun jika lebih sabar serta memahami batas dari jangkauan lawan, kemudian mendapatkan waktu yang tepat maka pada saat itu lawan akan "terkunci" baik fisik maupun mental. Pada momen itulah waktu yang tepat melakukan serangan telak kearah lawan.
Gaya bertarung defensif atau counter menggunakan maai yang lebih sempit dan singkat dengan memperhitungkan angel / sudut serang, waktu, mengkonsentrasikan tenaga pada serangan, dan keakuratan sasaran pada daerah vital.
Senin, 31 Oktober 2016
Know Your Enemy
Dalam dunia bisnis dikenal sebuah istilah KYC, akronim dari know your customer. Tujuan dari prinsip ini adalah mengenal, mendata, memahami dan menganalisa resiko terhadap pelanggan yang dimiliki.
Dalam seni beladiripun dikenal konsep yang sama yaitu know your enemy. Seperti yang diungkapkan oleh Sun Tzu pada dua abad yang lalu dalam buku The Art of War:
"Mengetahui siapa musuh Anda dan mengenal diri sendiri, maka dalam seratus pertempuran Anda tidak akan pernah kalah. Jika Anda tidak mengetahui tentang musuh anda tapi anda mengetahui kelemahan dan kekuatan diri sendiri maka peluang untuk menang dan kalah adalah sama. Jika Anda tidak mengetahui baik musuh maupun diri sendiri, maka ada bahaya dalam setiap konflik."
Quote tersebut memang banyak digunakan dalam dunia bisnis salah satunya pada prinsip KYC, namun pada artikel kali ini kita akan mendalami tujuan asli dari quote tersebut yaitu untuk mempertahankan diri anda dari suatu pertarungan.
Kita ambil contoh pada pertandingan tinju, masing masing petinju akan mempelajari lawan yang akan dihadapinya dengan melihat rekaman pertandingan sebelumnya. Dari situ ia akan melihat gaya bertarungnya, strateginya, keunggulannya dan mencari celah kelemahannya.
Pada contoh yang lain seperti pada pertandingan kumite di karate, peserta tidak akan tahu siapa lawan yang akan dihadapinya sampai saat anda di arena karena penentuannya dengan sistim kocok. Namun yang pasti ia tahu yang dihadapinya memiliki berat yang sama, gaya bertarung yang sama dan peraturan yang sama.
Singkat kata bila anda bertarung di arena judo maka anda akan berhadapan dengan judoka, bila dikarate anda akan berhadapan dengan karateka, ditaekwondo tentunya dengan taekwondoin. Termasuk diarena MMA yang akan dihadapinya petarung MMA.
Bagaimana bila anda teribat pertarungan di luar arena?
Lawan anda bisa siapa saja, mungkin seorang pesilat? BJJ? pegulat? ninja? atau seorang petarung jalanan?
Selama di dojo kita dipersiapkan untuk berlaga diarena pertandingan yang mana penuh dengan peraturan dan pengaman, namun mengabaikan bagaimana mempersiapkan suatu kondisi disaat kita berada dalam pertarungan yang bebas.
Berlatih untuk brawler tentunya harus menjadi menu utama disamping mengejar target menjadi seorang juara di arena. Di luar dojo fancy kick dan long fast punch tidaklah terlalu efektif kecuali anda benar benar ahli dalam hal itu.
Tekhnik sedehana dan tepat sasaran, dapat menyelamatkan anda sebagai pemula saat brawler. Asal anda selalu mengasah teknik tersebut, sebab akurasi membutuhkan pengulangan suatu gerakan.
Sudah menjadi teori umum dalam bidang olah raga, bila seorang atlit ingin ahli dalam suatu teknik maka ia harus melakukan repetition sebanyak 10,000 kali.
Dengan berlatih free fighting di dojo anda, anda dapat memperbesar peluang selamat dari brawler.
Seperti quote dari Sun Tzu "Bila anda tidak mengetahui kemampuan anda maupun lawan anda maka ada bahaya dalam setiap konflik"
Dalam seni beladiripun dikenal konsep yang sama yaitu know your enemy. Seperti yang diungkapkan oleh Sun Tzu pada dua abad yang lalu dalam buku The Art of War:
"Mengetahui siapa musuh Anda dan mengenal diri sendiri, maka dalam seratus pertempuran Anda tidak akan pernah kalah. Jika Anda tidak mengetahui tentang musuh anda tapi anda mengetahui kelemahan dan kekuatan diri sendiri maka peluang untuk menang dan kalah adalah sama. Jika Anda tidak mengetahui baik musuh maupun diri sendiri, maka ada bahaya dalam setiap konflik."
Quote tersebut memang banyak digunakan dalam dunia bisnis salah satunya pada prinsip KYC, namun pada artikel kali ini kita akan mendalami tujuan asli dari quote tersebut yaitu untuk mempertahankan diri anda dari suatu pertarungan.
Kita ambil contoh pada pertandingan tinju, masing masing petinju akan mempelajari lawan yang akan dihadapinya dengan melihat rekaman pertandingan sebelumnya. Dari situ ia akan melihat gaya bertarungnya, strateginya, keunggulannya dan mencari celah kelemahannya.
Pada contoh yang lain seperti pada pertandingan kumite di karate, peserta tidak akan tahu siapa lawan yang akan dihadapinya sampai saat anda di arena karena penentuannya dengan sistim kocok. Namun yang pasti ia tahu yang dihadapinya memiliki berat yang sama, gaya bertarung yang sama dan peraturan yang sama.
Singkat kata bila anda bertarung di arena judo maka anda akan berhadapan dengan judoka, bila dikarate anda akan berhadapan dengan karateka, ditaekwondo tentunya dengan taekwondoin. Termasuk diarena MMA yang akan dihadapinya petarung MMA.
Bagaimana bila anda teribat pertarungan di luar arena?
Lawan anda bisa siapa saja, mungkin seorang pesilat? BJJ? pegulat? ninja? atau seorang petarung jalanan?
Selama di dojo kita dipersiapkan untuk berlaga diarena pertandingan yang mana penuh dengan peraturan dan pengaman, namun mengabaikan bagaimana mempersiapkan suatu kondisi disaat kita berada dalam pertarungan yang bebas.
Berlatih untuk brawler tentunya harus menjadi menu utama disamping mengejar target menjadi seorang juara di arena. Di luar dojo fancy kick dan long fast punch tidaklah terlalu efektif kecuali anda benar benar ahli dalam hal itu.
Tekhnik sedehana dan tepat sasaran, dapat menyelamatkan anda sebagai pemula saat brawler. Asal anda selalu mengasah teknik tersebut, sebab akurasi membutuhkan pengulangan suatu gerakan.
Sudah menjadi teori umum dalam bidang olah raga, bila seorang atlit ingin ahli dalam suatu teknik maka ia harus melakukan repetition sebanyak 10,000 kali.
Dengan berlatih free fighting di dojo anda, anda dapat memperbesar peluang selamat dari brawler.
Seperti quote dari Sun Tzu "Bila anda tidak mengetahui kemampuan anda maupun lawan anda maka ada bahaya dalam setiap konflik"
Selasa, 18 Oktober 2016
Naihanchi
Dalam karate, ada jurus atau kata yang terlihat mudah dipelajari namun bila kita kupas lebih detail maka terdapat banyak teknik yang terkandung didalamnya. Hal ini akan coba kita bahas pada artikel kali ini.
Kita ambil contoh suatu kata yang bernama naifanchen (dialek okinawa) atau naihanchi (dialek jepang) atau tekki (nama yang diberikan gichin funakoshi pada saat karate diperkenalkan pertama kali di jepang guna menghindari hal yang identik dengan tiongkok).
Naihanchi memiliki makna "bertarung secara menyamping". Hal ini dapat dilihat dari arah gerakannya yang menyamping. Sedangkan tekki memiliki arti "kuda besi". Makna ini diambil dari bentuk kuda kuda yang digunakan di tekki kata, yang seolah olah sedang menunggang kuda.
Banyak praktisi karate mengira bahwa embusen dari naihanchi ini adalah untuk pertarungan di jalanan sawah, papan jembatan pada perahu, gang kecil atau dibelakang anda terdapat dinding. Gerakan menyamping pada kata ini tidaklah memiliki hubungan dengan pertarungan tersebut.
Pada masa lalu naihanchi diajarkan sebagai kata pertama (sama seperti sanchin pada goju ryu dan uechi ryu) namun saat ini naihanchi mulai diajarkan saat sabuk coklat.
Dalam naihanchi tidak terdapat gerakkan yang "menakjubkan" hanya gerakkan yang sederhana saja sehingga dalam sport karate kata ini jarang dimainkan.
Asal mula naihanchi diperkirakan sudah ada sekitar tahun 1800an yang mana kata ini diperkenalkan oleh Sokon Matsumura. Seorang kesatria dan pelindung dari tiga generasi kaisar kerajaan ryukyu.
Beliau menggabungkan seni beladiri asli ryukyu / okinawa yaitu "Te" dengan seni beladiri tiongkok yaitu "quanfa". Hal ini tak lepas dari hubungan antara okinawa dengan tiongkok dan perannya sebagai bodyguard yang mengunjungi dan dikunjungi ahli beladiri quanfa. Namun menurut keterangan dari choki motobu, saat ini kata naihanchi beserta passai, chinto, dan rohai sudah punah ditiongkok dan hanya diajarkan dalam karate.
Diantara murid dari sokon matsumura adalah anko itosu. Beliau memberikan keterangan mengenai naihanchi adalah kata yang termudah sekaligus yang tersulit. Beliau juga yang menciptakan naihanchi / tekki nidan dan sandan sebagai tambahan sedangkan yang originalnya dinamakan tekki shodan.
Saat ini beberapa aliran mempelajari keseluruhan dari tiga tekki dan beberapa aliran hanya mengajarkan yang originalnya seperti Wado ryu. Tidak hanya naihanchi saja yang hanya diajarkan originalnya, kata lainnya seperti passai, kushanku, juga hanya diajarkan kata aslinya.
hal ini menurut pendiri wado ryu yaitu Hironori Ohtsuka lebih menitik beratkan kepada fungsi pembelaan diri suatu kata daripada mengetahui banyak jurus hanya sebagai gerakkan fisik saja.
Terlepas dari penting atau tidaknya "suffix kata", bagi Hironori Otsuka naihanchi merupakan kata utama wado ryu. Mengenai waktu yang dibutuhkan untuk menguasai kata ini Hironori Ohtsuka mengungkapkan membutuhkan sepanjang usia untuk menguasainya. Hal ini sejalan dengan gurunya yaitu Gichin Funakoshi yang membutuhkan waktu selama tiga tahun untuk setiap tekki. Hal ini menggambarkan begitu dalamnya kata naihanchi ini.
Menurut guru hironori yang lain yaitu choki motobu banyak bunkai dari kata ini yang menggunakan gulatan, kuncian, dan bantingan. Salah satu teknik yang menjadi ciri khas dari kata ini adalah nami-gaeshi (sapuan kaki).
Hironori otsuka berpendapat tujuan utama dari teknik ini adalah melatih keseimbangan. Pada gaya karate yang lain nami-gaeshi dikenal dengan naihanchi geri. Dikisahkan choki motobu pernah mematahkan kaki lawannya dengan teknik ini.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa kemampuan bertarung jarak dekat adalah hal yang vital dikuasai sebagai bagian membeladiri dan naihanchi memberikan cara yang efektif dan efisien dalam kondisi ini.
Kita ambil satu contoh sasaran yang menjadi penekanan pada kata ini yaitu serangan langsung pada carotid sinus. Titik ini terletak pada samping leher dibawah rahang.
Serangan dengan tepat dan keras pada titik ini dapat menyebabkan hilangnya kesadaran pada lawan. Hal ini disebabkan titik ini tidak dilindungi oleh otot dan bila terjadi benturan yang keras otak akan bereaksi terdapat tekanan darah yang meninggi dengan sangat cepat.
Sasaran lain yang ditekankan adalah pada dagu lawan. Titik ini sangat berbahaya, terutama saat menggunakan kagi zuki. Teknik kagi zuki yang tepat sasaran dapat menggeser syaraf tulang belakang, terutama pada sambungan tulang tengkorak dan tulang belakang.
Itulah sebagian dari banyak teknik bunkai yang terdapat pada naihanchi. Masih banyak yang bisa digali dari kata ini namun tentunya tidak cukup dijabarkan pada satu artikel atau sesekali latihan saja.
The point is "more you practice it, easier to master it"
Kita ambil contoh suatu kata yang bernama naifanchen (dialek okinawa) atau naihanchi (dialek jepang) atau tekki (nama yang diberikan gichin funakoshi pada saat karate diperkenalkan pertama kali di jepang guna menghindari hal yang identik dengan tiongkok).
Naihanchi memiliki makna "bertarung secara menyamping". Hal ini dapat dilihat dari arah gerakannya yang menyamping. Sedangkan tekki memiliki arti "kuda besi". Makna ini diambil dari bentuk kuda kuda yang digunakan di tekki kata, yang seolah olah sedang menunggang kuda.
Banyak praktisi karate mengira bahwa embusen dari naihanchi ini adalah untuk pertarungan di jalanan sawah, papan jembatan pada perahu, gang kecil atau dibelakang anda terdapat dinding. Gerakan menyamping pada kata ini tidaklah memiliki hubungan dengan pertarungan tersebut.
Pada masa lalu naihanchi diajarkan sebagai kata pertama (sama seperti sanchin pada goju ryu dan uechi ryu) namun saat ini naihanchi mulai diajarkan saat sabuk coklat.
Dalam naihanchi tidak terdapat gerakkan yang "menakjubkan" hanya gerakkan yang sederhana saja sehingga dalam sport karate kata ini jarang dimainkan.
Asal mula naihanchi diperkirakan sudah ada sekitar tahun 1800an yang mana kata ini diperkenalkan oleh Sokon Matsumura. Seorang kesatria dan pelindung dari tiga generasi kaisar kerajaan ryukyu.
Beliau menggabungkan seni beladiri asli ryukyu / okinawa yaitu "Te" dengan seni beladiri tiongkok yaitu "quanfa". Hal ini tak lepas dari hubungan antara okinawa dengan tiongkok dan perannya sebagai bodyguard yang mengunjungi dan dikunjungi ahli beladiri quanfa. Namun menurut keterangan dari choki motobu, saat ini kata naihanchi beserta passai, chinto, dan rohai sudah punah ditiongkok dan hanya diajarkan dalam karate.
Diantara murid dari sokon matsumura adalah anko itosu. Beliau memberikan keterangan mengenai naihanchi adalah kata yang termudah sekaligus yang tersulit. Beliau juga yang menciptakan naihanchi / tekki nidan dan sandan sebagai tambahan sedangkan yang originalnya dinamakan tekki shodan.
Saat ini beberapa aliran mempelajari keseluruhan dari tiga tekki dan beberapa aliran hanya mengajarkan yang originalnya seperti Wado ryu. Tidak hanya naihanchi saja yang hanya diajarkan originalnya, kata lainnya seperti passai, kushanku, juga hanya diajarkan kata aslinya.
hal ini menurut pendiri wado ryu yaitu Hironori Ohtsuka lebih menitik beratkan kepada fungsi pembelaan diri suatu kata daripada mengetahui banyak jurus hanya sebagai gerakkan fisik saja.
Terlepas dari penting atau tidaknya "suffix kata", bagi Hironori Otsuka naihanchi merupakan kata utama wado ryu. Mengenai waktu yang dibutuhkan untuk menguasai kata ini Hironori Ohtsuka mengungkapkan membutuhkan sepanjang usia untuk menguasainya. Hal ini sejalan dengan gurunya yaitu Gichin Funakoshi yang membutuhkan waktu selama tiga tahun untuk setiap tekki. Hal ini menggambarkan begitu dalamnya kata naihanchi ini.
Menurut guru hironori yang lain yaitu choki motobu banyak bunkai dari kata ini yang menggunakan gulatan, kuncian, dan bantingan. Salah satu teknik yang menjadi ciri khas dari kata ini adalah nami-gaeshi (sapuan kaki).
Hironori otsuka berpendapat tujuan utama dari teknik ini adalah melatih keseimbangan. Pada gaya karate yang lain nami-gaeshi dikenal dengan naihanchi geri. Dikisahkan choki motobu pernah mematahkan kaki lawannya dengan teknik ini.
Sudah tidak diragukan lagi bahwa kemampuan bertarung jarak dekat adalah hal yang vital dikuasai sebagai bagian membeladiri dan naihanchi memberikan cara yang efektif dan efisien dalam kondisi ini.
Kita ambil satu contoh sasaran yang menjadi penekanan pada kata ini yaitu serangan langsung pada carotid sinus. Titik ini terletak pada samping leher dibawah rahang.
Serangan dengan tepat dan keras pada titik ini dapat menyebabkan hilangnya kesadaran pada lawan. Hal ini disebabkan titik ini tidak dilindungi oleh otot dan bila terjadi benturan yang keras otak akan bereaksi terdapat tekanan darah yang meninggi dengan sangat cepat.
Sasaran lain yang ditekankan adalah pada dagu lawan. Titik ini sangat berbahaya, terutama saat menggunakan kagi zuki. Teknik kagi zuki yang tepat sasaran dapat menggeser syaraf tulang belakang, terutama pada sambungan tulang tengkorak dan tulang belakang.
Itulah sebagian dari banyak teknik bunkai yang terdapat pada naihanchi. Masih banyak yang bisa digali dari kata ini namun tentunya tidak cukup dijabarkan pada satu artikel atau sesekali latihan saja.
The point is "more you practice it, easier to master it"
Langganan:
Postingan (Atom)







